Selain hasil rempah perkebunan, Kapur Barus ternyata tanaman asli Indonesia yang sudah sejak beradab lalu menjadi bahan komoditi perdagangan yang eksotis. Kapur Barus berasal dari Kota Barus, satu kota di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.
Nama Kapur Barus ini murni diambil dari nama Kota Barus karena pada awalnya Kapur Barus memang menjadi bahan komoditi perdagangan asli dari kota ini. Pelabuhan Kota Barus pernah diklaim menjadi pelabuhan kapal terbesar di Indonesia yang melayani kapal-kapal pedagang dari Arab, Portugis, India, dan daratan Eropa.
Satu hal yang paling membanggakan, Kota Barus menjadi satu-satunya kota kecil di Indonesia yang selalu disebutkan dalam bermacam literatur klasik peninggalan sejarah dunia, seperti dalam literatur bahasa Yunani, Arab, Armenia, India, Tamil, China, Melayu, Portugis, dan Eropa lainnya.
Saat itu banyak pedagang dari berbagai bangsa terutama pedagang Arab yang beragama Islam menyandarkan kapalnya di Pelabuhan Barus demi berdagang dan memburu komoditi mahal pohon Kapur Barus. Imbasnya, perdagangan itu pun membawa akulturasi budaya dan agama yang kompleks. Bahkan, Kota Barus diyakini sebagai gerbang masuknya Islam di Indonesia.
Pada 24 Maret 2017, Presiden Joko Widodo meresmikan Tugu Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara di Barus, Sumatera Utara. Daerah Barus tiba-tiba hangat diperbincangkan di kalangan masyarakat, terutama sebagai awal peradaban Islam di Nusantara.
Di daerah tersebut terdapat kompleks pemakaman tua dengan nama Makam Mahligai, terletak di Desa Aek Dakka. Ada 43 nisan tua yang berukir aksara Arab Kuno dan Persia. Konon, nama pemakaman tersebut diambil dari sebuah istana kecil pada zaman Tuan Syekh Abdul Khatib Siddiq. Setelah wafat, Syekh Siddiq dimakamkan di makam Mahligai.
Selain itu sejumlah ulama besar penyebar Islam lainnya juga ikut dimakamkan di kompleks tersebut, seperti Syekh Rukunuddin, Syekh Ushuluddin, Syekh Zainal Abidin Ilyas, Syekh Ilyas, Syekh Imam Khotib Mu’azzamsyah Biktiba’i, Syekh Syamsuddin, Tuanku Ambar, Tuan Kepala Ujung, Tuan Sirampak, Tuan Tembang, Tuanku Kayu Manang dan Tuanku Makdum.
Tokoh utama yang dimakamkan adalah Syekh Mahmud, penyebar agama Islam yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Makamnya berupa makam panjang, dengan batu nisan putih setinggi 1,5 meter berukir aksara Persia dan Arab Kuno.
Sejarawan Aceh sekaligus arkeolog Husaini Ibrahim mengatakan, kawasan Barus dulunya merupakan tempat berkumpulnya para pedagang. “Sejauh yang saya ketahui, Barus adalah tempat komunitas perdagangan, tetapi tidak terlepas kaitannya dengan Aceh karena daerah Barus dulunya menjadi bagian Aceh Darussalam,” kata Husaini.
Husaini menilai, peresmian Tugu Titik Nol Pusat Peradaban Islam Nusantara di Barus disayangkan. Dari segi sejarah, peresmian sesuatu membutuhkan tahap yang harus dilewati. Misalnya, seminar sejarah yang dihadiri banyak pakar, baik pakar sejarah, arkeologi dan lainnya yang berkaitan dengan awal Islam di Nusantara.
Dari kesepakatan para ahli, awal Islam Nusantara di Aceh, yaitu di Perlak dan Samudera Pasai. Kini kembali ditemukan Kerajaan Lamuri di kawasan Lamreh, Kabupaten Aceh Besar. “Hasil penelitian yang kami temukan bahwa Lamuri itu lebih awal, malah telah ditemukan batu nisan yang tertulis abad ke-11M, dan itu sangat menarik,” kata Husaini. [Fathurroji NK]





















