Anak merupakan anugerah yang sangat luar biasa sekaligus amanah yang harus dijaga dengan sebaikbaiknya. Tugas orangtua bukan hanya menyediakan tempat tinggal yang nyaman, makanan yang cukup, dan kasih sayang yang berlimpah. Namun, orangtua juga dituntut mendidik buah hati untuk beribadah, termasuk mendidik anak-anak untuk shalat.
Cara mudah mengenalkan anak tentang shalat dengan mengajak mereka shalat berjamaah di masjid. Dengan begitu, secara tidak langsung masjid menjadi selalu ramai dan makmur. Seiring berjalannya waktu, anak-anak itu akan tumbuh dewasa dan mereka sudah akrab dengan rumah Allah.
Karena itu, sangat disayangkan jika masih ada jamaah atau pengurus masjid yang memarahi atau bahkan mengusir anak-anak keluar dari masjid hanya lantaran mereka khawatir kebiasaan anak-anak yang suka bermain itu akan mengganggu kekhusyukan orang yang sedang menunaikan ibadah di masjid. Anak-anak perlu dilatih akrab dengan masjid.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Muhammad Cholil Nafis menjelaskan, Rasulullah SAW sendiri berinteraksi dengan anak-anak ketika shalat di masjid. “Pernah Rasulullah SAW shalat sambil digelendotin cucunya,” kata Kiai Cholil kepada Majalah Gontor.
Lebih baik anak ramai di masjid daripada di jalan atau tempat-tempat maksiat. Dengan penjelasan orangtua, lambat-laun anak akan lebih mengerti bahwa masjid sebagai tempat ibadah, bukan tempat bermain. “Orangtua atau takmir perlu memberi tahu anak-anak bahwa masjid adalah tempat ibadah. Jangan dihardik jika bermain di masjid,” tegasnya.
Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), Jusuf Kalla (JK) juga meminta pengurus masjid tidak terlalu keras agar anak-anak mau belajar shalat dan mengaji ke masjid. Jika pengurus masjid terlalu keras, anak bisa semakin jauh dari masjid. “Kalau agak ribut sedikit, dipisahlah,” katanya saat peresmian Masjid Raya Bukaka, Bone (16/12/2022).
Menurut Ustadz Abdul Somad (UAS), tidak ada masalah bila orangtua membawa anak ke masjid. Justru dengan pola seperti itu kemakmuran masjid akan terjaga hingga lintas generasi. “Kalau di masjid masih ada anak kecil, insya Allah sampai hari kiamat tidak akan pernah putus orang shalat. Jangan marah ke anak kecil,” kata UAS dalam bedah buku 99 Tanya Jawab Seputar Shalat di Masjid al-Ittihad, Tebet, Jakarta Selatan (19/8/2022).
Jika sudah pada fase mumayiz, murahiq, apalagi baligh, anak-anak boleh dibawa ke masjid. Mumayiz adalah anak-anak yang sudah bisa membedakan mana baik dan mana buruk, tapi belum aqil baligh. Murahiq adalah anak-anak yang menjelang usia baligh. Karena anak-anak pada fase tersebut sudah bisa mendengarkan arahan dari orangtua.
Agar anak-anak tidak terlalu mengganggu, ini bisa disiasati dengan pengaturan shaf ketika shalat. “Kalau anak-anak sudah cukup syarat, maka boleh berada di shaf orang dewasa. Tapi karena mayoritas anak di Indonesia kadang wudhu belum sempurna dan belum khitan, maka solusinya ditempatkan di shaf belakang,” tutur UAS.
Sejak zaman Rasulullah SAW, sudah lazim ada anak kecil di masjid. Perilaku anak di zaman itu pun tidak jauh berbeda dengan perilaku anak kecil di zaman ini, yaitu sama-sama suka bermain. Tidak bisa dipungkiri, tabiat anak-anak memang suka bermain. Namun, itu tidak bisa jadi alasan untuk menjauhkan anak-anak dari masjid.
Teladan Rasulullah SAW dalam menjadikan masjid ramah anak dapat dilihat dalam banyak riwayat hadis. Abu Qatadah RA menuturkan, “Aku melihat Rasulullah SAW mengimami shalat sambil menggendong cucunya, Umamah binti Zainab binti Rasulullah di pundaknya. Jika beliau akan sujud, anak tersebut diturunkannya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dengan redaksi yang sedikit berbeda, Imam Muslim dan Nasa’I juga meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW mengimami orang-orang sambil menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah di lehernya. Apabila rukuk, beliau menaruhnya dan bila bangkit dari sujud, beliau mengambilnya kembali.
Imam Nasa’i dan Hakim juga meriwayatkan dari Abdullah bin Syaddad RA, Rasulullah SAW dating ke masjid untuk shalat Isya’, Dzuhur, Ashar sambil membawa salah satu cucunya yakni Hasan atau Husein, lalu Rasulullah SAW maju ke depan untuk mengimami shalat dan meletakkan cucunya di sampingnya, lalu bertakbiratul ihram memulai shalat. Di tengah shalat, beliau sujud lama sekali, tidak seperti biasanya. Syaddad yang penasaran itu pun mengangkat kepala untuk mencari tahu apa gerangan yang terjadi dan melihat cucu Rasulullah naik ke pundak Rasulullah SAW yang sedang bersujud. Setelah melihat kejadian itu, Syaddad kembali sujud bersama makmum lainnya.
Setelah Rasulullah SAW menyelesaikan shalat, sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, baginda sujud lama sekali sehingga kami sempat mengira telah terjadi apa-apa atau baginda sedang menerima wahyu.” Rasulullah SAW menjawab, “Bukan itu yang terjadi, tapi tadi cucuku menunggangi punggungku. Saya tidak suka memutus kesenangannya hingga dia puas.” (HR. Nasa’i dan dinilai sahih oleh Hakim)
Rasulullah SAW begitu lembut terhadap anak-anak dan kerap merasa kasihan kepada anak kecil yang menangis. Ketika mendengar ada anak-anak yang menangis, Rasulullah SAW tidak memanjangkan shalatnya. Bahkan, Rasulullah SAW memerintahkan imam shalat untuk mempercepat shalat ketika ada suara tangisan anak kecil.
“Pada saat mulai shalat, terkadang saya ingin shalat agak panjang, tapi kalau sudah mendengarkan tangis anak kecil yang dibawa ibunya ke masjid, maka saya pun mempersingkat shalat karena saya tahu betapa ibunya tidak enak hati dengan tangisan anaknya itu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian mengimami orang-orang, ringankanlah shalat karena di antara mereka ada anak kecil, orangtua, yang lemah, dan sakit. Apabila shalat sendiri, panjangkanlah sesukamu. Dan Rasulullah SAW itu meringankan shalat jamaah, serta menyempurnakannya.” []





















