Kalender Hijriyah memberikan hikmah, baik secara bahasa maupun makna. Maka memahami maksud kalender Hijriyah dengan baik menjadi perlu agar masyarakat Muslim menuai hikmah dan keberkahan dari penetapan bulan Hijriyah.
Bagi para penikmat karya animasi Nusa & Rara, ada sebuah episode berjudul Bulan Hijriyah Penuh Berkah. Episode tersebut berkisah tentang urutan nama bulan dalam Islam, mulai dari Muharram hingga Dzulhijah berikut dengan beberapa keutamaan yang berkembang di masyarakat Muslim, terkhusus di Indonesia.
Sebagaimana diketahui, Islam memiliki nama-nama bulan tersendiri seperti halnya kalender Masehi. Nama-nama bulan dalam Islam, yaitu: Muharram, Shafar, Rabi’ul Awwal, Rabi’ul Tsani, Jumadil Awwal, Jumadil Tsani, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawwal, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah.
Ada sebuah kitab klasik berbahasa Arab berjudul al-Ayyām wa al-Layālī wa asy-Syuhūr karya Abi Zakariya Yahya bin Ziyad al-Farā’i (wafat 207 H/822 M). Dalam kitab tersebut, al-Farā’i menjelaskan makna nama-nama bulan hijriyah. Bulan pertama dalam Islam disebut Muharram karena bangsa Arab melarang adanya peperangan pada bulan tersebut.
Bulan kedua dinamakan Shafar karena pada bulan tersebut bangsa Arab memerangi bangsa lain dengan tujuan mendapatkan makanan. Al-Farā’i menjelaskan, ada riwayat lain yang mengatakan bahwa disebut Shafar karena masyarakat Arab membawa makanan dari tempatnya.
Bulan ketiga dan keempat dinamakan Rabi’ul Awwal dan Rabiul Tsani. Dalam catatan al-Farā’i, bangsa Arab lampau menyebutnya sebagai Syahru ar-Rabi’u yang berjalan selama dua bulan tanpa dipisah Awal atau Akhir. Ketika itu bangsa Arab menjadikan bulan ini sebagai bulan bercocok tanam. Dalam kamus al-Ma’āny, kata Rabi’un berarti musim semi.
Untuk bulan kelima dan keenam disebut Jumāda karena sering hilangnya ketersediaan air pada periode tersebut. Al-Farā’i menjelaskan bahwa pada bulan tersebut hujan tidak turun sehingga tumbuhlah rerumputan yang menjadi pakan hewan ternak.
Bulan ketujuh disebut Rajab karena bulan itu menjadi bulan terbaik untuk mengagungkan Allah SWT. Bulan kedelapan, Sya’ban berarti berkumpul. Al-Farā’i mengatakan, Sya’ban bermakna bulan berkumpul dan berpisahnya para kabilah. Jika dikaitkan dengan Rajab dan Ramadhan, Sya’ban adalah bulan yang mempertemukan atau bulan pertengahan.
Sedangkan bulan kesembilan disebut Ramadhan karena bermakna teriknya panas matahari. Tetapi, ada pendapat yang mengatakan nama Ramadhan merupakan salah satu dari asma Allah SWT. Bulan kesepuluh disebut Syawwal karena bermakna berkurangnya hewan ternak saat hamil.
Sementara bulan kesebelas, dinamakan Dzulqa’dah karena bangsa Arab duduk (berhenti) dari perjalanannya setelah melakukan peperangan. Dan bulan kedua belas, dinamakan Dzulhijah karena pada bulan itu, umat Muslim sedunia menjalankan ibadah haji.
Mengapa Ahad?
Menurut Ketua Majelis Penasihat Persis, Prof Dr M Abdurrahman, penyebutan hari Minggu merupakan warisan penjajah Belanda. Dalam laman persis.or.id disebutkan, istilah Minggu berasal dari nama Pendeta Santo Da Minggoes asal Portugis. Pada zaman Belanda, ia sering memberikan khutbah di gereja setiap hari Ahad.
Karena siasat dan upaya keras pendeta Santo Da Minggoes dengan budaya ritual kekristenan yang dilakukan setiap hari Ahad, kalangan Kristiani di Indonesia berhasil mengubah istilah hari Ahad menjadi hari Minggu.
Menurut Abdurrahman, kata Ahad sangat bermakna dan strategis bagi umat Islam. Ia pun mendorong masyarakat untuk rajin menggunakan istilah sepekan untuk tujuh hari ketimbang seminggu. “Sebutan Minggu ini harus diganti dengan Ahad. Sementara istilah Minggu depan juga harus diganti dengan Ahad depan,” ungkap Abdurrahman.
Sementara itu, Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan dua makna bagi arti kata Minggu: hari pertama dalam jangka waktu satu Minggu; Ahad: atau jangka waktu yang lamanya tujuh hari. Sedangkan Ahad berarti dua makna pula, yaitu hari pertama dalam jangka waktu satu minggu; satu atau esa.
Situs berita detik menemukan dalam buku Loan-Words in Indonesia and Malay bahwa asal-muasal kata Minggu dalam bahasa Indonesia atau Melayu adalah bahasa serapan dari kata Domingo asal Portugis. Sementara kata Domingo juga merupakan serapan dari bahasa latin Dominicus yang berarti hari Tuhan atau hari dari Tuhan.
Kata Dominicus inilah yang kemudian diserap ke dalam bahasa Portugis menjadi Domingo. Lalu diserap lagi oleh bahasa Melayu dan Indonesia menjadi Minggu. Hingga akhirnya, masyarakat Indonesia-Melayu mengenal hari pertama dalam tujuh hari sebagai hari Minggu.
Selain persoalan nama hari, rupanya Islam memberi dimensi teologis dalam nama dan jumlah bulan yang jelas. Perpindahan hari ke hari dimulai berdasarkan perputaran siang dan malam. Sementara bulan Masehi justru mengalami problematika karena di awal mereka meyakini satu tahun hanya 10 bulan. Sementara perpindahan hari ke hari dalam perhitungan kalender Masehi di mulai dari pukul 12 malam.
Peneliti Institute for Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS), Adnin Armas menjelaskan, perpindahan hari dalam Islam itu saat Maghrib tiba. Sebelum Nabi Isa AS lahir, bulan pertama Masehi ialah Maret dan bukan Januari. “Karena Maret awal bulan, maka September merupakan bulan ketujuh,” kata Adnin kepada Majalah Gontor.
Adnin berargumen, dalam bahasa latin, istilah Septem pada bulan September adalah tujuh, okto pada Oktober berarti delapan, novum pada November berarti sembilan, istilah decem pada Desember berarti sepuluh. “Namun tatkala penemuan astronomi menetapkan setahun 12 bulan, maka bulan Januari dan Februari ditambahkan,” ujarnya.
Saat ini kesadaran masyarakat terhadap bulan Islam hanya tertuju pada bulan Ramadhan dan Syawwal karena ada ibadah wajib puasa Ramadhan dan perayaan Idul Fitri. Kalaupun ada bulan yang masyarakat mulai tertarik itu bulan Dzulhijah, yang berkait dengan pelaksanaan ibadah haji dan ibadah penyembelihan hewan kurban.
Bayangkan, jika semua umat Muslim menyadari bahwa di setiap bulan memiliki keistimewaan dalam ibadah, maka ibadah bulanan seperti puasa Bidh, puasa Arafah, puasa Tarwiyah, puasa Asyura, puasa Shafar, Lailatul Qadar pasti dinanti-nantikan, dan sebagaimana kata Nusa & Rara, “kita ingat, kita hafalkan agar mendapatkan berkah.”[]



















Alhamdulillah, terima kasih atas ilmunya pak sangat bermanfaat sekali