Terlahir dari keluarga nelayan di Surambau, sebuah pulau kecil sebelah utara Pulau Nias, Sumatera Utara, Yusman kecil hidup bersama keluarga dengan segala keterbatasan. Apalagi jika musim badai tiba, orangtuanya sama sekali tidak bisa melaut. Untuk makan sehari-hari, mereka hanya mengandalkan hasil dari ladang. Tak mau menyerah pada nasib, Yusman muda bertekad hijrah ke Ibukota. Ia mendapat beasiswa kuliah di STID Moh. Natsir. Singkat cerita, selepas kuliah, Yusman ditugaskan berdakwah ke Pulau Seram, Maluku.
Dengan segala keterbatasan, bersama istri tercinta ia membangun TPA dan pesantren kecil-kecilan. Setelah setahun dakwah di pedalaman, Ustadz Yusman diminta kembali untuk merintis usaha bekam dan ruqyah yang sempat dijalankan saat kuliah. Awalnya, tawaran itu tidak langsung diterima mengingat sempat gagal sebelumnya dan alasan ingin mengabdi di kampung halaman.
Setelah mengevaluasi diri, mempelajari ilmu keuangan, public speaking, SDM, dan marketing dari buku dan seminar-seminar, ia memantapkan hati membuka kembali Pusat Bekam dan Ruqyah (PBR). Jatuh bangun usaha ini dijalani bersama teman-temannya hingga sekarang punya 21 cabang dengan kurang lebih 200 orang karyawan.
Sejak tahun 2014, ia mulai mendirikan Rumah Infaq dengan program utama membangun masjid. Jika masjid sudah banyak berdiri di pelosok, maka pembinaan mualaf dan umat Islam minoritas bisa dilakukan. “Maka kami fokus pada program pembangunan masjid, beasiswa anak yatim piatu dan mualaf, serta pemberdayaan ekonomi,” terangnya.
Proyek pertama Rumah Infaq di tahun 2014: meneruskan pembangunan Masjid Al-Furqon di Kota Gunung Sitoli, Nias. Hingga kini, sudah sekitar ratusan masjid telah terbangun, baik dari fondasi, melanjutkan pembangunan, ataupun melakukan renovasi. Semua itu ada di daerah terpencil, seperti di Seram Bagian Barat, Desa Foa Nias, dan Desa Alor NTT.
Kemudian di tahun 2018, Ustadz Yusman bersama tim mendirikan Pesantren Tahfidz Gaza Indonesia di kaki Gunung Salak, di Kampung Malang Nengah, Cibungbulang, Bogor, di atas tanah wakaf seluas 10.000 meter persegi. Pesantren di bawah naungan Rumah Infaq ini memberi pendidikan gratis untuk kaum dhuafa dan anak yatim.
“Ini pesantren umat. Dhuafa, yatim bisa mondok di Pesantren Tahfidz Gaza Indonesia. Kami berikan gratis pendidikan tanpa biaya apapun. Kami hanya berharap anak umat Muslim jadi hafidz Qur’an semua sesuai sunnah Rasulullah SAW,” ujarnya kepada Majalah Gontor.
Selain Pesantren Tahfidz Gaza, ada Markaz Huffadz, sekarang bernama Alquran University, dimulai sejak tahun 2016. Saat ini tersebar di tiga tempat: Bekasi, Pondok Gede, dan Ciputat. “Tanggal 16 Januari 2022 akan launching 11 cabang Rumah Tahfidz. Alumni Alquran University itu yang menjadi guru di beberapa Rumah Tahfidz yang akan dibuka,” katanya.
Ustadz Yusman mengatakan, semua aktivitas tersebut dilakukan selain untuk dakwah memperbaiki akhlak anak-anak, juga untuk bekal di akhirat nanti. “Kita hidup di dunia hanya sementara, maka kita butuh amal-amal shalih yang bisa mengalirkan pahala ketika kita sudah tidak ada,” pungkasnya. [] Muhammad Khaerul Muttaqien

























