Masih terdengar di telinga kita syair lagu “Ramadhan tiba Ramadhan tiba, marhaban ya Ramadhan marhaban ya Ramadhan”. Tak terasa bulan penuh ampunan ini segera datang. Begitu ucapan terungkap penuh makna dan rasa senang hingga bergetar hati menyambut bulan penuh ampunan dan segala amal ibadah kita yang dilakukan dengan berharap kelipatan pahala pada setiap ibadah walau sekecil apa pun.
Ada banyak keistimewaan melekat bersama Ramadhan, baik sebagai bulan rahmat, bulan tarbiyah (pendidikan), maupun madrasah ruhiah dan istilah lainnya. Pada bulan ini juga ada ibadah istimewa. Antara lain zakat, termasuk salah satu rukun Islam. Sebagai bagian rukun Islam, maka wajib bagi setiap Muslim untuk memahaminya dan sekaligus –jika memenuhi syarat- harus menunaikannya.
Memang dalam banyak perbincangan, zakat seringkali digabung dengan kata tambahan maal yang memang masih merupakan kosakata Arab. Makna maal sendiri berarti harta atau kekayaan. Dengan demikian terjemah dari zakat maal adalah zakat kekayaan. Kekayaan inipun juga tidak semuanya, tetapi dengan kriteria tertentu seperti harta dagangan, peternakan, hasil pertanian, emas/perak dan yang sehukum denganya. Jadi zakat maal ini wajib dilakukan dengan sebab utama berupa memiliki harta yang memenuhi ketentuan syariat. Sebutan zakat maal ini, juga biasa digunakan untuk membedakan dengan zakat fitrah atau lebih tepatnya adalah zakat fithr. Walaupun sama-sama wajibnya dan sama-sama hartanya, tetapi zakat ini diwajibkan karena fithr yaitu berbuka dari kewajiban berpuasa selama Ramadhan. (al-Mawsu’ah al Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah: XXIII/335).
Keistimewaan lain yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan: lailatul qadr. Beruntung bagi Muslim yang mendapatkannya dan saya rasa setidaknya Muslim yang akan bertemu dengannya sudah taraf kategori yang sering kita dengar Muslim pada tingkatan Mukmin.
Dan berikutnya yaitu turunnya mukjizat Rasulullah SAW yaitu Al-Qur’an. Subhanallah tiada kata yang lebih baik diucapkan selain membacanya mendapat pahala dan mengamalkan seluruh isinya tanpa terkecuali dalam pengambilan sumber hukum selain hadis. “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS Al-Baqarah: 185)
Aneka cara menyambut Ramadhan
Beberapa data yang didapati dalam menghadapi Ramadhan nanti berbeda karena pada saat ini kita bukan hanya di Indonesia akan tetapi seluruh dunia sedang mengalami masa pandemi yang belum berujung hingga kapan oleh penyebab virus Covid-19. Sebagai contoh antara lain; Arab Saudi menegaskan melalui Menteri Urusan Islam, Dakwah dan Penyuluhan Saudi, Abdul Lathif al-Shekh, mengatakan bahwa selama pandemi virus corona berlangsung maka shalat Tarawih dan shalat wajib harus dilakukan di rumah, untuk kesehatan dan keamaan bersama. “Kami berharap Allah akan menerima shalat Tarawih, apakah dikerjakan di masjid atau di rumah yang kami pikir lebih baik untuk kesehatan masyarakat,” kata al-Sheikh, diberitakan surat kabar al-Riyadh, sebagaimana dikutip dari laman gulfnews, Ahad (12/4).
Grand Mufti Kerajaan Arab Saudi, Abdul Aziz bin Abdullah bin Mohammed Al El-Sheikh juga mengumumkan agar shalat Tarawih dan shalat Idul Fitri dilaksanakan di rumah masing-masing, jika pandemi virus corona (Covid-19) belum reda. Demikian dilaporkan kantor berita Saudi, SPA, Jumat (17/4). Abdul Aziz menuturkan, tidak mungkin melaksanakan shalat Tarawih dan shalat Idul Fitri di masjid-masjid karena itu akan ‘melanggar’ tindakan pencegahan yang diambil otoritas terkait untuk memerangai penyebaran virus corona.
Hal yang senada juga diutarakan Dewan Ulama Senior Arab Saudi. Mereka bahkan menyerukan agar umat Islam di seluruh dunia melaksanakan ibadah, baik shalat wajib maupun shalat Tarawih, di rumah selama bulan suci Ramadhan ini, mengingat pandemi virus corona (Covid-19) masih dalam pengawasan dan korban dari virus ini masih ada. “Muslim harus melaksanakan shalat wajib dan shalat Tarawih di rumah jika otoritas yang kompeten di negara mereka merekomendasikan hal itu,” demikian seruan Dewan Ulama Senior Arab Saudi, seperti diberitakan kantor berita Saudi, SPA, Ahad (19/4).
Dewan Ulama Senior Saudi juga mendorong agar umat Islam menghindari acara-acara pertemuan seperti buka puasa dan sahur bersama. Sebab, menurut laporan medis pertemuan dianggap sebagai penyebab utama penyebaran infeksi virus corona.
Ramadhan sebagai pembelajaran diri
Di Indonesia sendiri mungkin tidak jauh berbeda dengan negara lain dalam kebijakan dan putusan pemerintah soal menghadapi Ramadhan dalam keadaan pandemi seperti sekarang ini. Adapun nilai dan kesan dari Ramadhan tidak pernah berubah, kemuliaan serta keagungan bulan ini tetap diberikan kepada siapapun yang dapat melaluinya dengan penuh keikhlasan dan mengharap ampunan dari sang maha Pengampun. Puasa merupakan hal wajib yang harus dijalani pada bulan Ramadhan. Selain sebagai simbol dedikasi pribadi seseorang kepada Tuhan dalam bentuk menahan lapar, haus, amarah dan beragam keinginan duniawi, momen puasa merupakan momen spesial untuk membangun rasa saling pengertian yang lebih baik dalam keluarga.
Selain itu, momen berbuka puasa dan sahur merupakan momen istimewa untuk mempererat kebersamaan dan kehangatan dalam keluarga untuk saling berbagi cerita sambil menikmati menu makanan buka puasa dan sahur dilengkapi dengan sajian kreasi kearifan lokal, tak jarang ditemui jajanan yang hanya dijual dan disajikan khusus di bulan ini.
Bahkan banyak tradisi-tradisi asimilasi dari kultur Islam lama dengan istilah Munggahan bagi daerah Jawa Barat dan selamatan berkat di Kalimantan. Ini tidak lain mengajarkan kita agar memperat tali persaudaraan dan berlomba dalam membagi hidangan sahur dan berbuka bagi keluarga dan kerabat, tetangga, anak yatim, petugas di jalanan dan warga muslim lainnya.
Bulan Ramadhan juga merupakan momen di mana setiap orang belajar untuk berbagi kepada sesame melalui zakat. Dengan pemahaman tentang makna berbagi, keluarga akan terbiasa untuk saling berbagi dan membantu. Hal ini akan membentuk toleransi dalam memahami satu sama lain dan saling membantu. Rasa pemahaman ini tentu akan memperkuat keharmonisan dalam keluarga.
Bulan Ramadhan juga saat di mana setiap orang melakukan refleksi diri dan perbaikan diri. Berpuasa tidak hanya menahan haus dan lapar, tetapi bagaimana setiap orang menahan amarah, nafsu dan segala keinginan duniawi. Hal ini akan melatih diri untuk senantiasa berefleksi atas segala kekurangan yang ada dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Momen ini akan sangat baik diterapkan dalam keluarga.
Bulan Ramadhan adalah momen di mana setiap orang bisa kembali mendekatkan diri pada keluarga dan saling memaafkan antar anggota keluarga. Selain itu, melalui proses pengembangan diri dalam berpuasa, baik orang tua maupun anak-anak juga dilatih untuk senantiasa jujur, berani bicara mengakui kesalahan dan meminta maaf. Momen ini tentu akan semakin memperkuat keharmonisan dalam keluarga.
Sebuah hadis Nabi Muhammad SAW mengingatkan perbaikan diri dari sebelumnya yang buruk kepada yang baik karena puasa bukan hanya menahan pada makanan dan minuman melainkan hal-hal yang tidak bermanfaat dan merugikan diri sendiri dan orang lain. “Semua amalan bani Adam untuknya kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalasnya, puasa adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa janganlah berkata keji dan berteriak-teriak, jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, maka ucapkanlah: ‘Aku sedang berpuasa’.”
Kemudian banyak waktunya dia habiskan dalam mengisi Ramadhan dengan ibadah shalat Tarawih, sunnah yang jarang dia kerjakan semasa sebelum Ramadhan lebih tinggi durasi dan lebih banyak jumlahnya. Membaca al-Qur’an dan mentadabburinya. Tanpa melewatkan momen sebaik ini bersama keluarga dan kerabat yang dia cintai dan menjadikan kampus pembelajaran baik bagi diri sendiri maupun keluarga.
“Orang yang puasa mempunyai dua kegembiraan, jika berbuka mereka gembira, jika bertemu Rabbnya mereka gembira karena puasa yang dilakukannya.” [Bukhari – Muslim].
























