“Mengapa Ustadz Abdul Somad, Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Felix Siauw yang dakwahnya santun, lembut, juga dituduh radikal? Analisa saya karena mereka tidak cocok dengan rezim.”
Sejumlah jadwal kegiatan dakwah Ustadz Abdul Somad (UAS) di berbagai wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur terpaksa harus dibatalkan oleh pihak panitia. Ada oknum anggota Ormas yang mengaku “Saya Pancasila” dan “Sangat NKRI” melakukan persekusi dan intimidasi untuk menggagalkan jadwal syiar agama itu.
Pada September 2018 lalu, dalam akun instagram @ustadzabdulsomad, UAS mengatakan menerima ancaman dari sejumlah oknum di beberapa daerah, yaitu di Malang, Solo, Boyolali, Jombang, dan Kediri. Karena itu, dengan sangat terpaksa, pihak panitia membatalkan sejumlah jadwal ceramah UAS di berbagai daerah itu, agar kondisi tetap aman dan baik-baik saja. “Beban panitia yang semakin berat. Kondisi psikologis jemaah dan saya sendiri. Mohon maaf atas keadaan ini, harap dimaklumi,” kata UAS, Selasa (4/9).
“Saya Abdul Somad, memohon maaf kepada semuanya karena mulai bulan September hingga Desember tidak bisa datang ke Jawa Timur dan Jawa Tengah,” ungkapnya sebagaimana dilansir www.youtube.com.
UAS lantas mengklarifikasi soal topi bertulisan Laa ilaaha illa Allah yang dikenakannya. Topi itu hanya sekali ia pakai. Lalu ada yang menyebut tentara Abdul Somad sudah datang. “Ini bahaya sekali karena bisa membuat orang menjadi trauma dengan kalimat tauhid dan bisa membuat masyarakat menjadi atheis.”
“Sekali lagi saya tegaskan saya bukan anggota Hizbut Tahrir. Saya pendakwah bebas yang pernah diundang mereka dalam acara umum,” papar pria kelahiran Silo Lama, Asahan, Sumatera Utara, 18 Mei 1977, itu.
UAS lantas menceritakan, “Kejadian itu berawal dari 17 Juli 2018, di mana kami melihat ada kerumitan yang luar biasa (ada ketegangan dari sejumlah pihak) dalam sebuah kajian. Padahal kami mengaji soal kematian, tidak ada makar atau hal terkait politik.”
Lalu di Semarang, 30-31 Juli, turun dari bandara, ia dikawal oleh TNI dan Kepolisian sejauh 1 km dari bandara. “Padahal kami hanya ingin mengaji bukan mau perang. Kami merasa telah menyusahkan banyak orang,” tegas alumnus Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, itu.
“Pengajian saya tidak lebih dari perbaikan ekonomi, pendidikan, politik. Saya tidak pernah menyebut nomor, nama. Hanya ingin rakyat melek politik saja,” tambah UAS.
Jadwal kajian di Jepara juga harus dibatalkan. “Setelah itu, saya menyimpulkan sepertinya Jawa Tengah dan Jawa Timur masih belum kondusif. Sehingga kami off dulu sampai bulan Desember. Karena ini adalah solusinya,” tukas dai yang pernah belajar di Daar al-Hadits Al-Hassania Institute, Kerajaan Maroko.
Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ustadz Zaitun Rasmin mengatakan, UAS merupakan dai ahlu sunnah wal jama’ah. “Secara umum dakwah yang disampaikan UAS tidak keluar dari rambu-rambu bernegara atau pemahaman masyarakat Muslim Indonesia. Maka sangat disayangkan jika ada intimidasi dari oknum tertentu,” tandas Zaitun.
Tidak hanya UAS yang dipersekusi. Aktivis dakwah Neno Warisman juga mengalaminya. Pada Juli 2018 silam, daiyah sekaligus politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), ini sempat mengalami persekusi di Bandara Batam saat hendak menghadiri acara deklarasi #2019GantiPresiden.
Awalnya Neno hanya melihat banyak gelagat aneh yang muncul dari orang-orang di sekitarnya. “Keluar dari gerbang, sudah banyak yang mengambil foto saya secara tidak biasa,” ujarnya di hadapan awak media di Griya Tugu Asri, Depok, Selasa (31/7).
Ia pun dibawa ke suatu ruangan dan terus difoto, namun tidak diizinkan untuk keluar. Hingga ada orang yang melemparnya dengan tong sampah. Neno lantas diminta untuk membatalkan niatnya menghadiri deklarasi #2019GantiPresiden. Namun, dengan tegas wanita bernama asli Titi Widoretno Warisman itu menolaknya.
“Saat saya masih di mushala bandara, di luar katanya massa yang menolak kehadiran saya tidak bisa dibubarkan. Polda bilang keadaan tidak aman, lalu saya dimasukkan ke dalam ruangan,” ungkapnya sebagaimana dilansir www.youtube.com.
Neno menuturkan, “Kemudian ada teman dari Medan yang menghubungi Macan Asia, salah satu organisasi. Dia mencoba membawa kami ke pintu belakang tapi pihak bandara dan Polda yang memang menahan tidak memberikan izin pada kami.”
Bahkan ketika Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon, turut bernegosiasi dengan pihak setempat, birokrasi pun terkesan rumit dan dipersulit. Akhirnya ada wakil dari FPI yang mengirim Abu Gaza untuk ikut negosiasi. Sehingga negosiasi saat itu melibatkan wakil dari Macan Asia, Gerindra, dan anggota DPRD dari Partai Amanat Nasional (PAN).
Neno mengisahkan, saat itu ratusan laskar FPI juga sempat terlibat ketegangan dengan aparat kepolisian. Tiga orang FPI terluka. Melihat situasi yang tak terkendali, akhirnya sekitar pukul 23.45 WIB, Neno dan beberapa rekannya nekad keluar dari bandara.
Namun mobil mereka ditimpuki batu oleh orang tak dikenal. Mereka pun akhirnya berhenti karena ada barisan aparat kepolisian bersenjata lengkap yang turut menghadangnya.
Tapi atas permintaan masyarakat Batam, akhirnya deklarasi #2019GantiPresiden tetap dilangsungkan. Walaupun di ujung waktu deklarasi itu dihentikan oleh polisi.
“Kami hanya bisa menjembatani masyarakat untuk tahu, untuk sadar bahwa gerakan #2019GantiPresiden adalah gerakan yang konstitusional, tidak melanggar hukum. Dan misi ini sudah tersampaikan,” tutur ibu tiga anak itu.
“Saya sedih sekali karena kita ini kan satu, seperti ada kejanggalan. Kita hanya WNI yang ingin mengeluarkan pendapat dan tidak melanggar apa-apa. Mengapa harus seperti ini,” pungkas istri Widiono Doni Wiratmoko itu.
Cap Radikal
Sementara itu Gus Nur, salah seorang dai Indonesia, mengalami intimidasi saat menggelar ceramah di Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat (14/9). Pria kelahiran 11 Februari 1974 itu, dituduh menyampaikan kajian radikal bertema politik. “Padahal kajian yang disampaikan bertema ‘Hakikat Hijrah’ dan itu adalah pesanan panitia setempat,” bantah Gus Nur.
“Namun kami tegaskan bahwa kajian berjalan dengan lancar dan khusyu’. Kami diterima dengan baik oleh para jamaah,” papar ustadz bernama asli Sugi Nur Raharja itu.
Sebelum itu, rombongan Gus Nur sudah melihat gelagat aneh di sekitarnya. Tak jauh dari lokasi ceramah sudah ada Ormas yang berkumpul di pom bensin. Hingga akhirnya ketika Gus Nur sedang berceramah, segerombolan massa datang menuju masjid hendak membubarkan pengajian.
Mereka berteriak-teriak dan melempari batu. Padahal saat itu, Kapolsek Karangpandan AKP Ibariyadi beserta jajarannya juga hadir dalam pengajian itu. Demi keselamatan, Kapolsek lantas mengevakuasi Gus Nur ke Polres Karanganyar.
Ceramah yang digelar di Masjid Al Huda, Talpitu, Karangpandan, Karangayar, Jawa Tengah, itu awalnya mulai menegang saat oknum Banser datang ke Polsek Karangpandan dini hari. Mereka meminta pengajian dibatalkan. Namun, panitia menolaknya.
Sebagaimana dilansir Panjimas.com, Gus Nur menegaskan dua hal penting. Pertama, “Saya akui saya keras dan radikal kepada rezim ini tapi tidak kepada selain rezim. Radikal saya hanya kepada munafik dan penjilat.”
Tapi, lanjutnya, hal ini masuk ke ranah hukum publik karena setiap orang boleh radikal asal tepat. “Masa ketemu pengkhianat, penjilat negara, tapi kita tidak radikal, itu bagaimana?” tanya Gus Nur.
Kedua, “Mengapa Ustadz Abdul Somad, Ustadz Adi Hidayat, Ustadz Felix Siauw yang dakwahnya santun, lembut, juga dituduh radikal? Analisa saya karena mereka tidak cocok dengan rezim.”
Jadi, “Ulama yang dekat dengan penguasa, walaupun ilmunya, bacaan al-Qur’annya tidak benar, tidak akan dicap radikal. Sehingga bisa disimpulkan bahwa cap radikal di sini karena ada kepentingan. Dan saya bangga dicap radikal,” pungkas pria kelahiran Banten itu. []






















