Kalaulah Pak Sahal dulu membuat tamsil begini: “Penting bagi saya, tak penting bagi dia”. Kata Pak Sahal, “Saya ini sudah tidak ada yang penting. Diberi makanan yang enak-enak dan banyak tidak bisa makan. Saya diberi uang satu bago (karung). Untuk apa? Paling-paling saya berikan untuk pondok.”
Orang sering tidak mengerti bagaimana cara berpikir kita. Pak Sahal dan saya sama. Kalau tanahnya dipergunakan untuk pondok, alhamdulillah. Betul. Kalau hak miliknya diperlukan betul oleh pondok, diberikan betul-betul. Semua rumah yang pernah ditempati Pak Sahal dan saya tempati pernah juga menjadi kelas. Banyak orang yang masih ingat. Tanahnya, sawahnya diperlukan untuk masjid, silakan. Alhamdulillah. Orang yang tidak mengerti pikiran seperti itu, ya… tidak mengerti.
“Lakum dinukum wa liya din”. Yang penting bagi kamu tidak penting bagi saya. Yang penting bagi saya tidak penting bagi kamu.
Pada suatu ketika, saat hari Jumat, saya mendengarkan radio. Sesudah khutbah Jumat ada sebuah pidato. Saya dengarkan baik-baik pidato tersebut. Saya tidak tahu dari mana siaran itu. Di antara isinya, “Kalau ada orang memberi, jangan dikira yang menerima saja yang bersyukur. Orang yang memberi itu akan lebih bersyukur daripada orang yang menerima.” Ini cocok betul dengan pendirian saya. Saya tunggu siaran radio itu hingga selesai. Akhirnya, ternyata yang berpidato itu murid saya, yaitu Baasil dari Solo.
Jadi, apa yang ada pada kami dimengerti oleh dia, sampai dibawa pulang dan diberikan kepada orang lain. Saya bersyukur. Artinya, murid saya mengerti. Pengertian yang kami tanam itu hidup dan tumbuh. Kami ingin kamu sekalian mengerti ini. Pengertian seperti ini tidaklah mudah. Mungkin anak saya sendiri bisa kurang mengerti. Anak Pak Sahal bisa saja kurang mengerti. Tapi orang lain bisa lebih mengerti. Maka ini sangatlah mahal.
Pengertian ini haruslah kamu miliki. Ada sebabnya Pak Sahal dan saya berpikir, “Apa saja kepentingan untuk pondok diikhlaskan, diberikan.” Ini sebabnya masalah berkah.
Kalau kami memberi, kami yakin bahwa kami pasti akan mendapatkan berkah, pahala di dunia dan di akhirat. Dan kami akan mendapatkan gantinya yang lebih baik daripada apa yang telah kami berikan. Kami yakin dengan seyakin-yakinnya di dunia dan di akhirat.
Kalau kami ikut berjuang untuk desa ini, untuk masjid, untuk pondok ini, saya yakin anak-anak saya, cucu-cucu saya akan mendapatkan berkah dari amal kami itu semua. Inilah arti beramal.
Orang yang tidak mengerti arti ikhlas, sulit untuk berbicara dengan mereka, karena tidak satu bahasa. Bahasa ini harus dimengerti oleh seluruh siswa Pondok Modern Gontor. []





















