Maryland, Gontornews — Sebuah penelitian yang diterbitkan oleh the Journal of the American Medical Association (JAMA) menemukan bahwa rasa mual yang terjadi ketika hamil terkait erat dengan kesehatan kandungan. Para dokter kandungan dan mayoritas ibu hamil mengenal istilah mual di awal kehamilan sebagai morning sickness.
Morning Sickness merupakan rasa mual yang kerap dirasakan oleh seorang ibu hami di awal masa kehamilannya. Beberapa ibu hamil bahkan harus tidak dapat beraktivitas secara normal karena rasa mual yang sangat mengganggu.
“Anak saya mual karena mencium nasi. Bahkan anak saya yang satu lagi, melihat jalan saja sudah mual dan bawaannya ingin muntah saja,” ungkap seorang ibu, yang tidak dapat disebutkan namanya, yang berbagi cerita tentang kondisi putrinya di masa awal kehamilan kepada Gontornews.
Namun, para ibu hamil tidak perlu khawatir karena rasa mual yang para ibu hamil rasakan ternyata merupakan tanda bahwa janin yang ada dalam rahim anda berkembang dengan baik.
“Penelitian kami mengeavaluasi gejala dari minggu-minggu awal kehamilan, segera setelah pembuahan dan menegaskan bahwa ada hubungan antara mual, muntah dengan rendahnya risiko kehilangan kehamilan,” ungkap Ahli Epidemiologi dari National Institute of Health, Maryland, Stefanie N Hinkle sebagaimana dilansir Science Alert.
“Sudah menjadi hal yang umum bahwa rasa mual menunjukkan kehamila yang sehat, tetapi tidak ada banyak bukti berkualitas tinggi yang mendukung kepercayaan ini,” tambah dr Hinkle.
Secara teknis, para peneliti menganalisa data yang diambil dari uji coba yang dilakukan oleh the Effects of Aspirin in Gestation and Reproduction (EAGer) yang mempelajari apakah dosis aspirin rendah dapat mengurangi tingkat keguguran pada 797 wanita.
Para peneliti meminta kepada semua ibu hamil untuk membuat catatan harian apakah mereka mengalami mual dan muntah dari minggu kedu akehamilan mereka hingga minggu kedelapan. Selanjutnya, mereka juga diminta untuk membuat catatan serupa dari minggu kedepalam hingga kehamilan di pekan ke-36.
Dalam prosesnya, peneliti menemukan bahwa 188 dari 797 kehamilan berakhir dengan keguguran. Namun, peneliti juga menemukan bahwa para ibu hamil yang merasakan mual pada minggu ke-8 memiliki kemungkinan risiko 50 persen lebih kecil untuk mengalami keguguran dari pada mereka yang tidak mengalami mual.
“Temuan ini mengatasi keterbatasan analisa dan desain sebelumnya dan mewakili data paling definitif yang tersedia hingga saat ini yang menunjukkan hubungan pelindung mual dan muntah pada awal kehamilan dan risiko kehilangan kehamilan,” ungkap para peneliti.
“Kami berhipotesis bahwa ada hubungan biologis yang terjadi antara mual, muntah dengan kehilangan kehamilan,” kata Hinkle
“Meski data kami belum dapat menginformasikan secara tepat apa hubungan yang dimaksu,” tambah Hinkle.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa gejala mual di pagi hari mungkin merupakan bagian dari keuntungan evolusi seseorang untuk mengubah asupan makanan, meningkatkan konsumsi makanan kaya karbohidrat atau menghindari asupan zat berpotensi teratogenik.
“Jadi, rasa mual dan muntah yang lebih sedikit dapat mengidentifikasi status kehamilan gagal melalui kadar hormon yang lebih rendah penyebab mual dan muntah,” tutur penelitian tersebut.
“Penelitian ini harus memberikan penghiburan serta kepastian bagi wanita yang mengalami gejala-gejala ini bahwa mereka memiliki kehamilan yang sehat,” kata Hinkle.
“Tidak semua kehamilan adalah sama karena setiap individu berbeda. Jadi bukan berarti mereka tidak memiliki gejala lantas mereka akan mendapatkan kerugian,” tutup Hinkle [Mohamad Deny Irawan]






















