Miliu yang ada di sekitar umat cukup menantang dan menguji, dan itulah risiko manusia-manusia pilihan. Keteguhan, kesungguhan dan kesadaran hidup ternyata menjadi pekerjaan setiap orang. Dengan ujian dan musibah manusia, khususnya orang-orang pilihan harus mengalaminya sendiri secara langsung.
Kemurnian syahadat, kekhusyukan shalat, keikhlasan zakat, kesucian puasa, kesempurnaan haji, kejujuran usaha, keadilan dalam menghukumi, keteladanan pendidik dan lain-lain diuji oleh banyak godaan.
Kebendaan, kebebasan, kemaksiatan terbuka luas, janganlah ia menjadi alasan untuk menghancurkan jati diri, harga diri, kesehatan dan masa depan dirinya sendiri, keluarga, bangsa maupun negara. Krisis demi krisis, penyesalan demi penyesalan. Iman digadaikan, bangsa dijualbelikan kepada pihak yang tak suka umat beriman, hati nurani diserahkan kepada setan dan iblis hanya untuk kelezatan sekejab. Ini contoh kebinatangan modern, masa kini.
Amal shalih ataupun jasa selalu ada, harus tidak memberi kesempatan kepada βalasan.β
βBahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya.β (Al-Qiyamah: 14-15)
Banyak kalangan yang ingin menyelesaikan masalah tapi justru menjadi dan mendatangkan masalah baru. Membersihkan dengan kotoran, memperbaiki dengan kejahatan. Ada pula yang merasa paling suci, paling benar tidak mau menerima pendapat atau kehadiran orang lain, sehingga pada akhirnya ia kembali ke pojok-pojok kecil dalam dunia ini. Tidak mempunyai peran di tengah luasnya kemajuan masyarakat dan kemasyarakatan, menjadi makanan empuk bagi orang-orang yang getol bersilat lidah berebut gengsi namun tak bisa lagi menipu kepekaan hati nurani umat. Yang paling berbahagia hanyalah umat yang selalu sadar sejak awal hingga akhir, karena di sanalah Allah bersama malaikat-Nya selalu menyertainya.
Bumi yang luas ini menjadi sempit karena watak tercela itu. Orang congkak tidak mau dikalahkan, tak mau diungguli, tak mau diajar. Sementara orang kecil minder, tak punya pegangan, hanya bergantung ke mana saja. Manusia banyak membuat aturan atau undang-undang untuk menjaga keselamatan pribadi, bukan untuk nilai kemasyarakatan atau untuk masyarakat luas.
Dalam saringan kualitas, ada manusia yang enggan dan menyiksa diri, ada yang sedang-sedang saja, dan ada yang bersungguh-sungguh.
Banyak ilmuwan yang merasa cukup dengan kebenaran keilmuannya yang bersifat sementara. Ilmu pengetahuan tidak mungkin bertabrakan atau berbenturan dengan kaidah syaraβ. Kebenaran penemuan keilmuan saat ini yang sesuai dengan nash-nash Al-Qurβan dimusuhi, dilawan, minimal ditutupi, karena takut dan dengki.
Menahan diri itu kewajiban. Menahan diri itu kebutuhan, demi kesejahteraan pribadi masing-masing maupun bersama-sama. Mau naik tingkat, naik pangkat, naik derajat, harus melewati fase menahan diri. Dari masalah makan, berpakaian, berkendaraan, sampai bergaul secara profesional. Kalau tidak, terjadilah keadaan yang sekarang berlaku di bumi Allah ini: satu pihak saling menjatuhkan pihak lain, dan berebut menyelesaikan masalah secara sepihak. Lucunya masing-masing mengaku plural, global, umum, merakyat, dan seterusnya.
Masyarakat digiring, dikerahkan secara fisik, mental, maupun hanya dengan opini atau informasi sistematis dan berencana untuk membenarkan kemauannya, nafsunya, atau pendapatnya. Ada bangsa yang tidak mengeitahu arti merdeka karena βmenjajahβ dan βdijajahβ menjadi kebiasaan hingga turun menurun, bangga lagi!
Hidup yang baik dan mati yang baik adalah cita-cita umat yang bertauhid. Hidup ini amanat. Umur, kekuatan, kesehatan, pengetahuan, kekayaan, akan dipertanyakan dari mana asalnya dan penggunaannya. Kita harus memanfaatkannya untuk selalu to give, to give, to give dan in syaa Allah akan to again…
Islam itu ringan dan mudah, hanya manusia dengan ketergantungannya pada situasi dan kondisi (sikon) sering kali mempersulit. Maka kalau perlu umat harus meninggalkan sikon, karena acapkali menjadi syaiton. Jangan sampai kita dijajah oleh sikon dan rutinitas ciptaan manusia. Ada keharusan mengondisikan diri dalam perubahan βsikonβ apa pun, untuk mengembangkan sumber daya manusia (SDM) tanpa meninggalkan syariat, nilai dan moral spiritual kemanusiaan yang sempurna.
Tidak ada lagi alasan untuk tidak giat dalam proses peningkatan keimanan dan ketaqwaan agar ibadah kita lebih mantap dan kuat, mengisi sisa-sisa umur ini dengan amal shalih dan perbuatan produktif bermanfaat sesuai dengan tuntunan agama. [Selesai]






















