Bagi umat Muslim di seluruh dunia, bulan suci Ramadhan merupakan bulan yang selalu dinanti dan ditunggu. Bak aplikasi jualan online, Ramadhan berulang kali memberikan kesempatan bagi orang-orang yang beriman untuk mendapatkan flash sale serta diskon pengurang dosa besar-besaran. Maka merugilah orang-orang yang merasa bahwa Ramadhan bulan penyiksaan dan bulan penyebab lapar dan dahaga.
Saat berita ini dirilis, datangnya bulan Ramadhan tinggal 40 hari lagi. Sebuah perhitungan singkat yang tanpa sadar mengingatkan masyarakat Muslim di dunia bahwa mereka akan segera bertemu dengan bulan Ramadhan.
Umat Muslim di dunia tentu berbahagia dengan datangnya bulan suci Ramadhan. Sejumlah persiapan pun diperlukan untuk dapat memaksimalkan manfaat Ramadhan yang hanya datang satu kali dalam setahun itu.
Perintah berpuasa pun telah tersebut dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 183: “Yā Ayyuhalladzina āmanū kutiba ‘alaykumu al-ṣiyām kamā kutiba ‘alalladzīna min qablikum la’allakum tattaqūn”. Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana kami wajibkan kepada orang-orang sebelummu agar kamu menjadi orang yang bertaqwa.”
Rasulullah pun bersabda melalui hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari: “Man qāma ramadāna īmānan waḥtisāban ghufira lahu ma taqaddama min dzanbika” (barangsiapa yang mendirikan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap ampunan, (Allah SWT) akan mengampuni dosa-dosanya yang lampau).
Namun yang sering menjadi pertanyaan, bagaimana cara keluarga mempersiapkan bulan Ramadhan dengan baik? Allah SWT berfirmat dalam Surat At-Tahrim ayat 6 yang berbunyi: Yā ayyuhalladzīna āmanū qū anfusakum wa ahlīkum nāran”. Yang berarti “Wahai orang-orang yang beriman, lindungilah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Karenanya, menjadi tugas penting kepala keluarga untuk mengingatkan anggota keluarganya tentang datangnya bulan suci Ramadhan. Terlebih jika sang anak sudah berusia 10 tahun atau dewasa (baligh), maka ia sudah wajib untuk berpuasa dan perlu diingatkan. Berikut persiapan-persiapan yang perlu dilakukan umat Islam dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan yang berhasil dirangkum Majalah Gontor:
Bertobat kepada Allah SWT
Organisasi Wahdah Islamiyah merilis pentingnya tobat sebelum melaksanakan ibadah puasa. Mereka menganjurkan masyarakat Muslim untuk senantiasa membersihkan hati dari dosa dan maksiat dengan memperbanyak tobat dan membaca istighfar.
“Mari meneladani Rasulullah SAW yang bertobat dan beristighfar lebih 70 kali dalam sehari. Tobat yang sebenar-benarnya tobat yakni dengan meninggalkan dan menyesali dosa pada masa lalu serta ber-azam untuk tidak mengulangi dosa tersebut.”
“Karena itu, mari perbarui selalu tobat dan istighfar kita. Semoga Allah karuniakan taufiq dan kemudahan melakukan ibadah di bulan Ramadhan,” tulis laman resmi Wahdah Islamiyah.
Berdoa Dipertemukan dengan Ramadhan
Berdoa kepada Allah SWT tidak selalu ditujukan untuk momen atau waktu-waktu tertentu. Berdoa dalam khazanah keislaman bak sebuah senjata bagi seorang Muslim. Senjata yang mampu membantu seorang Muslim untuk menemukan kebahagiaan dan ketenteraman tak terkecuali di bulan Ramadhan.
Doa paling populer menjelang bulan Ramadhan yaitu: “Allāhumma Bārik lanā fi Rajaba wa Sya’bāna wa ballighnā Ramadhan” yang berarti “Ya Allah berkahilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan.”
Dalam catatan Ketua Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Aceh, Dr Muhammad Yusran Hadi, berdoa kepada Allah SWT agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan merupakan perbuatan ulama-ulama salaf (terdahulu). Bagi ulama terdahulu, perjumpaan dengan bulan Ramadhan merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang mendapatkan taufiq dari Allah SWT.
“Berjumpa dengan bulan (Ramadhan) ini merupakan nikmat yang besar bagi orang-orang yang dianugerahi taufik oleh Allah SWT,” katanya sebagaimana dilansir Islam Pos.
Menuntaskan Hutang Puasa
Hal paling remeh dan sering diabaikan oleh para wanita: hutang puasa di bulan Ramadhan. Dengan sebab haid atau nifas, seorang wanita dilarang berpuasa di bulan Ramadhan. Namun, diharuskan menggantinya di luar bulan Ramadhan.
Tidak ada waktu khusus yang disarankan oleh para ulama terkait pelaksanaan puasa pengganti. Namun, sebaiknya para wanita mengganti hutang puasanya paling lambat pada bulan Sya’ban.
“Menunda qadha puasa dengan sengaja tanpa udzur syar’i sampai masuk Ramadhan berikutnya berdosa. Maka kewajibannya tetap meng-qadha, dan ditambah kewajiban membayar fidyah menurut sebagian ulama,” sambung Dr Yusran Hadi.
Menjaga Kesehatan Fisik
Bencana pandemi Covid-19 telah menyebabkan pelaksanaan rutinitas ibadah masyarakat Muslim di dunia terganggu. Pelaksanaan shalat berjamaah di masjid dilakukan dengan shaf renggang, penarikan zakat secara online, pembatasan selama pelaksanaan ibadah haji juga terganggu. Satu-satunya ibadah yang tidak terganggu puasa.
Oleh karena Allah SWT, dalam hadis qudsi, menjamin pahala orang berpuasa, maka tidak ada halangan bagi orang untuk berpuasa termasuk mereka yang mengalami kondisi Covid-19 dengan kategori tanpa gejala atau OTG. Namun, bagi mereka yang membutuhkan perawatan khusus, tampaknya kondisi ‘kedaruratan’ yang memungkinkan seseorang untuk tidak berpuasa, bisa diberlakukan. Tentunya dengan konsekuensi meng-qadhanya di hari lain.
Sejak pandemi merebak pada awal tahun 2020, belum ada penelitian yang menyebut aktivitas berpuasa dapat meningkatkan risiko penularan Covid-19. Dalam hal ini, masyarakat perlu mematuhi aturan pemerintah untuk menerapkan 5M: (1) Memakai masker; (2) Mencuci tangan; (3) Menjaga jarak; (4) Menjauhi kerumuman dan; (5) Membatasi mobilisasi dan interaksi.
“Acara buka bersama di luar rumah ditunda dulu. Halal bihalal cukup dengan video call saja. Shalat Idul Fitri berjamaah di masjid/lapangan juga ditiadakan. Semua ini demi kebaikan kita. Yuk, laksanakan supaya semua ini cepat bisa berakhir dan bisa berkumpul seperti dulu lagi,” himbau Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN).
Persiapkan Bekal Ilmu
Sebuah mahfudzat masyhur berkata: “Utlubi al-i’lma walau bi al-ṣinni” yang berarti tuntutlah ilmu meskipun harus ke Cina. Mu’adz bin Jabal pernah berkata: “Hendaklah kalian memperhatikan ilmu, sebab mencari ilmu karena Allah ibadah.”
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah pun mengutarakan pendapat serupa. Menurutnya, orang berilmu mengetahui tingkatan-tingkatan beribadah, perusak-perusak amal dan hal-hal yang menyempurnakan dan apa-apa yang menguranginya.
“Suatu ibadah akan diterima Allah SWT bila dikerjakan dengan ikhlas dan sesuai dengan petunjuk Nabi Muhammad SAW. Maka menjelang Ramadhan ini sudah sepatutnya kita untuk mempersiapkan keilmuan kita dengan membaca kitab/buku mengenai fiqh puasa dan ibadah yang berkaitan dengan Ramadahan seperti shalat tarawih, tadarrus Al-Qur’an, i’tikaf dan lainya agar ibadah kita sesuai dengan sunnah Nabi SAW.”
Namun, sebaliknya, jangan sampai para intelektual yang mengetahui tentang serba-serbi puasa tidak melaksanakan pengetahuan yang mereka peroleh. Jika hal tersebut sampai terbukti, maka sosok intelektual tersebut tidak lebih dari sekedar pohon yang tidak akan berbuah. Al-‘Ilmu bilā ‘amalin ka al-Syajari bilā tsamarin. []





















