Bagi rakyat Indonesia nama Jenderal Sudirman bukan nama yang asing. Panglima yang lahir di Purbalingga, 24 Januari 1916, ini memiliki peran penting dalam kemerdekaan Republik Indonesia. Akan tetapi, ada beberapa hal yang belum banyak diketahui Masyarakat Indonesia, yaitu sikap ihsan sang jenderal.
Suatu ketika, salah satu pengawal setia Jenderal Sudirman, Supardjo Rustam, bertanya kepada sang Jenderal, apa yang membuat Jenderal Sudirman tidak pernah tertangkap oleh pasukan Belanda maupun orang-orang yang bersekutu dengan Belanda.
Maka sang Jenderal Besar itu pun menjawab, ada tiga hal, perilaku ihsan yang kerap dijalankannya dan tidak pernah ditinggalkan meskipun dalam kondisi darurat. Pertama, Jenderal Sudirman selalu dalam keadaan berwudhu. Artinya, setiap kali batal, ia kembali berwudhu, tidak pernah sedetikpun waktu tanpa berwudhu.
Hal itu tentu berkaitan dengan ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah mencintai orang-orang yang menyucikan diri, yaitu dalam surat Al-Baqarah ayat 222 yang artinya, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri”
Rasionalitasnya adalah bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala membiarkan hamba-Nya yang disukai lantaran terus mensucikan dirinya, berada dalam ancaman para musuh-musuh-Nya?
Kedua, shalat tepat waktu. Meski dalam kondisi sakit dan terus ditandu tidak membuat Jenderal Sudirman meninggalkan kewajibannya kepada Sang Pencipta, justru ia menjalankan setiap shalatnya tepat pada waktunya.
Hal itu adalah bukti bahwa Panglima Besar Jenderal Sudirman telah menjalankan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, yaitu mengerjakan shalat pada waktunya. Sebagaimana dalam hadis dari Ummu Farwah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah ditanya, amalan apakah yang paling afdhal.” Beliau pun menjawab, “Shalat di awal waktunya.” (HR Abu Daud)
Ketiga, menjalankan segala sesuatu dengan ikhlas. Ikhlas dengan mengharapkan Ridha Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebab, ia yakin bahwa apa yang terjadi dan dihadapi masyarakat Indonesia saat itu merupakan kehendak Allah dan takdir-Nya.
Tiga perilaku ihsan itulah yang telah dikerjakan dan dijalankan Jenderal Sudirman sehingga Allah Subhanahu Wa Ta’ala melindunginya dari para tentara Belanda beserta sekutunya. Bahkan, perilaku ihsan itu juga telah membawa keberkahan bagi para pengikuti Jenderal Sudirman.
Tekad Panglima Sudirman dalam menjaga kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sangat besar. Ia lebih memilih bergerilya daripada harus berdamai dengan penjajah Belanda.
Pada saat agresi militer yang kedua kalinya dilancarkan Belanda dan sekutu, saat Soekarno dan Hatta serta para habaib dipenjara, justru Jenderal Sudirman memilih untuk bertempur walaupun dengan kondisi paru-paru yang tidak sempurna.
Tekad dan semangatnya itu merupakan upaya untuk menunjukkan kepada Belanda, bahwa Indonesia masih ada dan Indonesia harus terus merdeka. Indonesia harus terlepas dari penjajahan, dan rakyat Indonesia harus merdeka.
Sikap dan perilaku ihsan sangat penting dikerjakan, sebab hal itu dapat memberikan dampak panjang dan luar biasa baik untuk kehidupan pribadi maupun masyarakat luas.
Indonesia merupakan ladang jihad, tempat berjihad para tokoh Islam dari berbagai organisasi, Muhammadiyah, NU, Persis, dan lain sebagainya. Sebab, berjihad dalam mempertahankan kemerdekaan negara merupakan kewajiban yang telah Allah ‘Azza wa Jalla embankan kepada hamba-hamba-Nya.
Agama Islam adalah agama Rahmatan Lil ‘Alamin, segala persoalan telah diatur dengan sebaik-baiknya. Kewajiban berperang demi mempertahankan kemerdekaan dari penjajah salah satunya. Untuk itulah, para founding father telah merancang dasar negara Indonesia atau Pancasila, dengan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, yang oleh Ki Bagus Hadikusumo dibenarkan dalam muktamar NU di Situbondo.
Maksud dari Ketuhanan Yang Maha Esa adalah tauhid, yaitu akidah. Dengan demikian, bertemulah dengan keyakinan sebagai Muslim yang berpegang teguh pada Al-Qur’an, sebagaimana ditegaskan dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56 yang artinya, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”[]






















