Khartoum, Gontornews — Sudan telah menguasai sebagian besar tanah, yang dituduhkan oleh orang-orang Ethiopia melanggar batas, di dekat perbatasan antara kedua negara, kata Menteri Informasi Sudan pada hari Sabtu (26/12).
Arabnews.com merilis, ketegangan di wilayah perbatasan telah berkobar sejak pecahnya konflik di wilayah Tigray, Ethiopia utara, pada awal November dan kedatangan lebih dari 50.000 pengungsi dari Tigray di Sudan timur.
Sengketa terkonsentrasi di lahan pertanian di Al-Fashqa, yang berada dalam batas internasional Sudan, tetapi telah lama digarap oleh petani Ethiopia.
Ada bentrokan bersenjata antara pasukan Sudan dan Ethiopia dalam beberapa pekan terakhir. Kedua belah pihak saling menuduh telah memicu kekerasan. Kedua negara mengadakan pembicaraan pekan ini di Khartoum mengenai masalah tersebut.
“Kami percaya pada dialog untuk menyelesaikan masalah apa pun,” Menteri Informasi Sudan, Faisal Salih, mengatakan kepada Reuters.
“Tapi tentara kami akan melakukan tugasnya untuk merebut kembali semua tanah kami. Saat ini tentara kami telah merebut kembali antara 60 persen sampai 70 persen dari tanah Sudan.”
Pasukan Sudan telah bertindak defensif, dan bentrokan telah mereda dalam dua hari terakhir, kata Salih.
“Laporan intelijen Sudan menegaskan bahwa organisasi, pelatihan, dan pasukan yang dipersenjatai yang menyerang bukanlah milisi tetapi pasukan reguler,” tambahnya.
Menjelang pembicaraan pekan ini, Menteri Luar Negeri Ethiopia, Ato Demeke Mekonnen mengatakan militer Sudan telah melakukan serangan mulai 9 November.
“Produk pertanian Ethiopia dijarah, kamp para petani dirusak, dan mereka juga dihalangi untuk memanen lahan mereka sendiri. Sejumlah warga sipil terbunuh dan terluka,” katanya.
Pada hari Kamis, Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed mengatakan, ada pihak-pihak dengan motif tersembunyi sengaja menciptakan permusuhan dan kecurigaan di perbatasan kedua negara. []






















