Jakarta, Gontornews — Membahas tokoh Ibn Qayyim dalam berbagai perspektif keilmuannya sangatlah menarik. Selain sebagai seorang faqih, muhaddits, teolog, dan psikolog, Ibn Qayyim ternyata juga seorang penyair yang handal. Disertasi tentang Ibn Qayyim ini, secara detail membahas soal aspek keahliannya dalam meng-gubah syair, terutama wasf.
“Dunia bagaikan impian yang berkunjung di dalam tidur, dan tidur telah usai mimpi pun berlalu,” Ibn Qayyim al-Jauziyyah.
Abdul Fattah Lasyin dalam bukunya Ibn al-Qayyim wa Hissuhu al-Balagi fi Tafsir al-Qur’an menyatakan bahwa melalui pengamatan pada karya dan metode yang dipakai Ibn Qayyim dalam menafsirkan ayat al-Qur’an dan Hadis ditemukan banyak yang berkaitan dengan aspek balaghah. Sebut saja bayan, rahasia kebalaghahan al-Qur’an atau Hadis, dan keindahan susunan kalimat atau ungkapannya.
Dr R Yani’ah Wardani, wanita kelahiran Bandung Selatan, 20 Oktober 1960, mengatakan, “Dalam pembahasan ini, kami menemukan adanya perubahan signifikan dalam syair wasf Ibn Qayyim al-Jauziyyah yang tidak pernah didapat pada zaman sebelumnya.”
Syair wasf yang dikembangkan Ibn Qayyim terbukti berada di posisi tinggi karena banyak mengandung wasf wijdany yang membutuhkan kemampuan nalar dalam menginterpretasikannya. Khususnya pada syair wasf al-jannah.
Gaya bahasa yang digunakan mayoritas adalah iqtibas (kutipan) dari al-Qur’an dan Hadis. Akan tetapi pada iqtibasnya belum berada pada tingkat tinggi. Meski demikian, penggunaan iqtibas dari al-Qur’an dan Hadis bukanlah pekerjaan mudah bagi seorang penyair.
“Argumentasi yang dibangun atas kesimpulan tersebut yaitu syair-syair wasf yang digambarkan Ibn Qayyim al-Jauziyyah hampir rata-rata sudah pada tingkatan wasf wijdany (wasf tingkat tinggi). Terutama wasf al-jannah karena bentuk tasybihnya yang falsafi, membutuhkan orang untuk berfikir dan membuka kembali teks ayat al-Qur’an dan Hadis guna memaknainya,” jelas ibu tiga anak ini. Di samping itu, masih ada juga yang termasuk sebagai kategori wasf naqly (tingkatan pertama) dan wasf al-dunya dan wasf al-qalb.
Dalam disertasi yang diselesaikannya pada tahun 2008 tersebut, Dr Yani’ah memaparkan bahwa ditinjau dari aspek kualitas syairnya, secara struktural sudah memenuhi syarat sebagai syair Arab klasik yang bertumpu pada peraturan ilmu arud dan qowafi dengan timbangan yang dapat dikatakan sempurna (tammah). Baik dari segi taf’ilah-nya pada bahr ta’wil untuk qosidah mimiyah dan bahr kamil untuk qosidah nuniyah.
Dari segi makna meliputi tinjauan atifah (emotion) sudah memenuhi kriteria teori yang digunakan Ahmad al-Syayib, yaitu sadiqah tanawwu’ al ‘atifah, dsb. Sementara dari segi khayal (imagination), pada jenis ibtikari untuk mayoritas syair wasf al-adunya dan al-qalb. Sedangkan pada wasf al-jannah mayoritas kategori jenis tafsiri/bayani.
Hampir dalam semua syair wasfnya secara umum terinspirasi dari kedua sumber al-Qur’an dan Hadis. Begitu pula dalam menuangkan gagasannya (fikrah). Seorang Ibn Qayyim selalu menyelaraskan semua ide layaknya pemikiran seorang sufi akhlaqi yang menjadikan hati sebagai center dalam pembentukan akhlaq. Misalnya deskripsi hati dengan symbol baitullah (wasf al-qalb bi al-ka’bah).
Istri Dr H Herman Hidayat, ini menuturkan bahwa Ibn Qayyim juga mengungkapkan amal shalih manusia di dunia sebagai mahar di akhirat untuk meminang segala kesenangan termasuk para bidadari di Surga.
Begitu pula sebagai teolog yang dikelompokkan Asy’ariyah, ia ungkapkan rasa kekesalannya terhadap ajaran teologi Mu’tazilah dan Jahmiyah yang menyatakan bahwa mukmin muttaqin tidak akan berjumpa dengan Rabbnya kelak di akhirat.
Sebagai seorang salafi, dalam menyatakan gagasannya, secara umum ditujukan semata-mata dakwah Islamiyah hanyalah untuk memperbaiki kondisi umat Islam yang berpaling dari ajaran agama Islam itu sendiri.
Sebagaimana penyair lainnya, syair wasf Ibn Qayyim kerap menggunakan tasybih, isti’arah, dan kinayah dalam mengungkapkan dan mencari kejelasan makna. Dihiasi dengan aspek al-muhassinat al-badi’iyah al-lafdziyah dan maknawiyah. Baik berbentuk iqtibas, tibaq, dan lainnya.
Bahkan gaya bahasa iqtibas ini hampir memenuhi syair-syair wasfnya terutama dalam wasf al-jannah yang sudah pada tahap wijdany yang merupakan wasf tertinggi.
Uslub atau gaya bahasanya yang terkenal dengan ‘kutu loncat’ mencerminkan keluasan ilmunya sehingga pembaca dibuatnya bingung. Begitu pula yang terjadi pada qasidah nuniyah dan mimiyah, bahwa kedua qasidah ini dibuat dalam bahr yang berbeda tetapi beberapa hal mengandung makna yang sama. Hal ini mencerminkan kekayaan mufradat (kosa kata bahasa Arab) yang ia miliki. Sekaligus bukti kepiawaiannya dalam mengubah syair Arab.
Sebagai seorang imam (mufti), ahli fiqh, ushul fiqh (faqih), dan teolog yang menguasai al-Qur’an dan ulum al-Qur’an, Hadits dan ulum al-Hadits, senantiasa syair wasfnya terinspirasi dari kedua sumber itu baik lafal atau maknanya, yang disebut dengan iqtibas.
Akan tetapi, tentang penggunaan iqtibas, sampai saat ini dosen yang juga aktif di berbagai organisasi dan majelis taklim ini, belum menemukan dalam syair-syairnya pada tahap iqtibas tingkat tinggi. Jika lafal dari al-Qur’an atau Hadits, namun kandungan maknanya berada dalam konteks yang berbeda.
Menurut wanita yang pernah meraih beberapa kali kesempatan postdoc, salah satunya di ASAFAS (Studi Kajian Asia Afrika) Kyoto University, Jepang pada 2009 lalu, kepiawaian Ibn Qayyim dalam mengubah syair dan qasidah nuniyah dan mimiyah, dapat dikatakan luar biasa. Baik dalam penggunaan bahasanya maupun kandungan maknanya.
Diakui, Ibn Qayyim mampu memadukan antara bahasa sastra dan kondisi sosial. Khususnya kondisi sosial keagamaan umat Islam di masanya.
Fenomena sosial keagamaan pada masa Ibn Qayyim sarat dengan berbagai penyelewengan agama. Sebagai penganut madzhab salafi, ia tampil menggubah syair dalam beberapa qasidah yang dijadikannya sebagai alat dakwah Islamiyah yang terinspirasi dari dua pusaka umat Islam al-Qur’an dan Hadis.
Dakwah Islamiyah yang berbungkus sastra, yaitu (qasidah) itu akan tetap hidup dan tidak akan hilang termakan waktu. “Hal tersebut karena imajinasi sang penyair adalah imajinasi dari kedua sumber kitab umat Islam yakni al-Qur’an dan Hadis,” pungkas putri keenam dari pasangan KH Ahmad Jumhur (pendiri Pondok Pesantren Darul Hikam) dan Hj Rd Wardah Anisah tersebut. <Edithya Miranti>
Biografi Singkat
Nama Lengkap : Dr R Yani’ah Wardani, MA
Tempat, Tanggal Lahir: Bandung Selatan, 20 Oktober 1960
Suami : Dr H Herman Hidayat, APU
Anak : 3 orang
Pendidikan : S1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1982
S2 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 1996
S3 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2008
Pekerjaan : Dosen Tetap Fakultas Adab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Aktiviutas : Pengurus harian Muslimat Nahdhatul Ulama pusat (PPMNU)
Pengurus Muslimah Internasional cabang Indonesia (MAAI)
Dewan kyai di Pondok Pesantren Darul Hikam, Bandung





















