Setelah berada di pondok jangan tertutup pandanganmu dengan masalah yang sedang kamu hadapi. Seperti orang di hutan tertutup pandangannya oleh selembar daun, sehingga hutan yang luas dan kaya dengan aneka flora serta fauna sama sekali tidak tampak.
Jangan terpancang hanya pada satu program, kegiatan atau masalah. Ingat, ke Gontor apa yang kau cari? Jangan seperti orang buta meraba gajah. Lihatlah Pondok secara keseluruhan, udkhulu fi Gontor kaaffah. Jangan melihat Gontor dari satu segi saja, seperti ada orang ke Gontor melihat bedug di masjid, langsung menyimpulkan kalau Gontor itu NU. Ikut jamaah Shubuh di masjid jami’, kebetulan imamnya tidak membaca qunut, langsung menyimpulkan kalau Gontor itu Muhammadiyah. Gontor menyiapkan wahana, sarana untuk belajar. Gontor tidak menjadikan kamu pandai, Gontor bukan tukang sulap tapi Allah yang menjadikan kamu pandai. Pondok hanya menawarkan dan membantu santri untuk berprestasi.
Jangan seperti pengikut Colombus. Yang tidak percaya kepada Colombus ketika sedang dalam pelayarannya, akhirnya protes, memberontak dan berkeluh kesah. Sesederhana apapun program di Gontor harus diikuti, karena semua menjadi sarana pendidikan. Untuk kebaikan masing-masing santri. Tidak ada hal yang tidak penting di Gontor.
Untuk apa Gontor didirikan? Untuk perbaikan umat, perbaikan pendidikan – islah, untuk ibadah, untuk amal shalih lillah. Apapun yang kita lakukan hendaknya untuk ibadah. Belajar, beraktivitas hingga pagelaran seni, semuanya sebagai bentuk pendidikan untuk ibadah. Semua itu sebagai kurikulum, sampai antre di dapur juga kurikulum. Bahkan banyak yang tersembunyi (hidden curiculum).
Di luar sulit menemukan orang yang bisa antre, karena kebanyakan egois.
Gontor memberikan sarana dan fasilitas untuk membina kualitas ilmu dan mental. Anak-anak baru supaya mencermati apa saja yang ada di Pondok.
Pada peringatan 10 tahun, Gontor mendirikan KMI. Banyak tamu yang datang termasuk Bupati Ponorogo, orang-orang Belanda, pastur-pastur yang setelah menyaksikan Pondok dengan berbagai kegiatannya, mereka menyebut Gontor sebagai Pondok Modern.
Modern itu terletak pada sikap, seperti pandangan yang jauh ke depan, progresif, tidak mundur ke belakang, selalu mengadakan evaluasi dan inovasi. Maka sampai sekarang dan nanti Gontor tetap modern, karena watak kemodernan selalu dijaga di Gontor.
Acara PKA hanya untuk internal. Kalau ada orang luar masuk dan melihat bisa salah paham. Seperti seorang Wolfgang yang melihat anak-anak menjadi bulis (penjaga) malam, beranggapan bahwa Gontor mempekerjakan anak di bawah umur. Dia salah paham. Itu pendidikan tanggung jawab. Bukan mempekerjakan anak sama sekali.
Seluruh yang ada di Gontor disiapkan dengan sengaja, dengan kesadaran dan pilihan. Ini lingkungan yang sengaja diciptakan untuk pendidikan. Dan inilah kurikulum. []
*Disadur dari buku The Garden of Wisdom: Ethical and Educational Wisdom. Wejangan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Drs KH M Akrim Mariyat Dipl.A.Ed halaman 13-20.




















