Bandung, Gontornews – Ada tiga potensi dalam diri manusia namun kerap terlupakan dan sedikit sekali yang menyukurinya. Padahal ketiga potensi inilah yang akan menyelamatkan manusia, baik di dunia maupun di akhirat kelak. Sebaliknya, kehinaan akan menerpa manusia akibat tidak memanfaatkan ketiga potensi itu.
“Kehinaan ini akibat ulah manusia itu sendiri yang tidak pandai bersyukur kepada Allah, karena tidak memanfaatkan karunia Allah dan tidak mau memfungsikan serta memberdayakan pemberian Allah,” terang Prof Dr H Sofyan Sauri, MPd dalam kajian Ahad (22/5) pagi ba’da Shubuh dari Masjid Al-Falaq, Gegerkalong Tengah, Kota Bandung.
Pengajian yang dilangsungkan secara hybrid ini mengusung tema “Kajian Surat Al-Mulk Ayat 23: Menggali Tiga Potensi dalam Mengembangkan Kehidupan yang Harmoni.” Sekitar 450 jamaah menghadiri kajian melalui aplikasi Zoom. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Riau, Aceh, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, dan daerah lain.
Lebih jauh guru besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung itu menyebutkan, Allah menciptakan manusia dengan tiga potensi, yaitu: Pendengaran (As-Sam’u), Penglihatan (Al-Absharu), dan Hati (Al-Af’idah). “Potensi adalah kemampuan yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan,” paparnya.
Setiap manusia memiliki kemampuan dan potensi dalam dirinya, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Qur’an Surat At-Tin ayat 4, yang artinya: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk dan raga yang begitu indah, namun kemudian Allah menjatuhkan manusia pada martabat yang paling rendah (QS. At-Tin: 5). Ini akibat ulah manusia yang tidak pandai bersyukur kepada Allah, tidak memanfaatkan karunia Allah, serta tidak mau memfungsikan dan memberdayakan pemberian Allah.
Sebaliknya yang dilakukan hanyalah pelanggaran-pelanggaran terhadap aturan Allah. Mereka hanya mengikuti selera nafsunya. Mereka hanya memunculkan sifat-sifat buruknya. Perilaku-perilaku inilah yang akan membawa kehancuran manusia. Namun, tidak semua manusia akan mengalami kejatuhan martabat, sebab Allah memberikan pengecualian, yaitu orang-orang yang beriman dan bertakwa, yakni mereka yang menyelaraskan antara keimanan dan amal shalih.” (QS. At-Tin: 6).
Mengutip Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, Prof Sofyan memaparkan bahwa pendengaran dan penglihatan merupakan mukjizat besar bagi manusia, dan titik masuk segala informasi dan pengetahuan yang dimiliki manusia. Melalui dua indera tersebut, kebesaran dan keagungan ciptaan Allah dapat dinikmati dan diteliti oleh manusia sebagai bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan dan sains.
Dalam Tafsir al-Azhar disebutkan bahwa nikmat pendengaran dan penglihatan merupakan jembatan penghubung antara manusia dengan dunia luar, dan hati atau akal lebih kepada mengolah informasi sehingga menghasilkan ilmu pengetahuan dan perkembangan peradaban manusia.
Sedangkan hati sebagaimana yang diungkapkan dalam Al-Qur’an sebagai kekuatan untuk memahami dan mengetahui hal-hal yang bersifat abstrak dan keyakinan. Maka barangsiapa yang tidak menggunakan pendengaran, penglihatan dan hati atau akal sebagaimana mestinya (mencari keridhaan Allah) akan sia-sia. “Dengan kata lain, ia termasuk orang yang merugi karena tidak dapat mengambil manfaat dari ketiga piranti penalaran tersebut,” jelas Guru Besar kelahiran Cianjur, 20 April 1956, itu.
Sementara itu merujuk Al-Zamakhsyari, Prof Sofyan memaparkan, kata af’idah menunjuk pada sesuatu yang sedikit, tidak seperti abshar yang menunjuk pada sesuatu yang banyak. “Af’idah bermakna sesuatu yang sedikit sebab hati diciptakan untuk memahami hakikat dan keyakinan, sementara kebanyakan manusia memiliki hati namun disibukkan dengan perkara yang sia-sia, seakan-akan hati mereka bukanlah hati yang sesungguhnya, karenanya kata af’idah dalam bentuk plural menunjukkan pada sesuatu yang sedikit,” kata dosen Pendidikan Bahasa Arab UPI itu.
Sedangkan Al-Maraghi, jelas Prof Sofyan, menandaskan bahwa pendengaran merupakan alat untuk mendengarkan nasihat dan hikmah, sedangkan penglihatan untuk melihat keelokan ciptaan Allah dan hati berfungsi untuk mentafakuri keagungan ciptaan-Nya. Namun, amat sedikit manusia yang menggunakan kemampuan dan kekuatan yang telah dianugerahkan oleh Allah untuk ketaatan dan mengerjakan perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.
Akibat tidak memanfaatkan potensinya manusia akan terjerumus dalam neraka. Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179).
Terkait hal ini Imam Al-Ghazali mengelompokkan manusia menjadi empat golongan. Pertama, golongan “Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri”, yaitu golongan orang yang mengetahui (berilmu), dan mengetahui kalau dirinya berilmu. Golongan pada tingkatan ini memiliki kedalaman pengetahuan (ilmu) dan ilmu ini benar-benar menjadikannya dekat dan takut kepada Allah serta mengajarkan kebaikan, dan menentang permusuhan.
Kedua, golongan “Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri”, yaitu golongan orang yang mengetahui (berilmu), tapi tidak mengetahui kalau dirinya berilmu. Golongan kedua ini sering dijumpai dalam kehidupan bermasyarakat. “Orang ini sebenarnya memiliki potensi atau kemapanan ilmu, akan tetapi tidak menyadari atau mengoptimalkannya untuk keperluan umat,” jelas Prof Sofyan.
Ketiga, golongan “Rojulun Laa Yadri wa Yadri Annahu Laa Yadri, yaitu golongan orang yang tidak mengetahui (tidak berilmu) dan mengetahui bahwa dia tidak tahu. Menurut Imam Ghazali, jenis manusia ini masih tergolong baik. Sebab, mereka menyadari kekurangannya. “Golongan ini bisa dikatakan belum memiliki kapasitas ilmu yang memadai, akan tetapi dia tahu dan berusaha keras untuk belajar dan mengejar ketertinggalan,” paparnya.
Keempat, golongan “Rojulun Laa Yadri wa Laa Yadri Annahu Laa Yadri” yaitu golongan orang yang tidak mengetahui (tidak berilmu) dan tidak mengetahui bahwa ia tidak tahu. Menurut Imam Ghazali jenis manusia keempat ini paling buruk. “Celakanya, model manusia seperti ini susah diingatkan, ngeyelan, selalu merasa tahu, merasa memiliki ilmu, dan berhak menjawab semua persoalan padahal ia tidak mengetahui apa-apa,” ujar dosen Program Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor itu.
Lalu bagaimana agar kita memiliki iman yang kuat? Mengutip Imam Al-Haddad dalam kitab Risalatul Muawanah, Prof Sofyan menyebutkan tiga cara untuk mempertebal iman. Pertama, membaca, mendengar serta memahami Al-Qur’an dan Hadis. Kedua, memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT lewat alam. Ketiga, selalu beramal shalih.
Pada kesempatan itu Prof Sofyan juga menjelaskan empat cara untuk mengembangkan potensi demi kehidupan yang harmoni di antara manusia. Pertama, potensi yang kita miliki jangan digunakan untuk melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT. Kedua, banyak bersyukur. Allah berfirman, yang artinya: “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (QS. As-Sajdah: 9).
Ketiga, menggunakan dan memanfaatkan potensi yang diberikan oleh Allah SWT. Keempat, meningkatkan potensi dalam berbagai aspek kehidupan. “Kesempatan mengembangkan diri merupakan salah satu rahmat Allah SWT sehingga manusia harus selalu semangat meningkatkan potensi dalam berbagai aspek kehidupan,” ujarnya. Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 139, yang artinya: “Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”
Kajian pagi ini ditutup dengan doa: اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّاتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا
“Ya Allah, berilah kami manfaat pada pendengaran kami, penglihatan kami dan kekuatan kami selagi kami hidup, dan jadikanlah itu semua tetap dengan kami dan terpelihara.” (HR. At-Tirmidzi No. 3502).[]























Alhamdulillah masyaa Allah ilmunya jazakallah khair pa prof.