Seoul, Gontornews — Pemerintah Korea Selatan memutuskan untuk menutup kembali aktivitas pembelajaran tatap muka di sekolah mulai Selasa, 15 Desember 2020. Upaya ini dilakukan menyusul meningkatnya penularan wabah Covid-19 hingga melampaui puncak penularan virus pada Februari silam.
Pemerintah meminta sekolah-sekolah untuk mengganti metode pengajaran tatap muka dengan metode pengajaran online.
Penutupan sekolah merupakan langkah menuju pemberlakuan aturan jarak sosial tahap 3 yang diterapkan Korea Selatan guna mencegah penyebaran Covid-19.
Perdana Menteri Korea Selatan, Chung Sye-Kyun, mengatakan bahwa pemerintah berhati-hati dalam mengeluarkan kebijakan tersebut. Pemerintah, lanjut Sye-Kyun, berada di bawah tekanan untuk mengendalikan penyebaran infeksi Covid-19 yang sedemikian masif.
“Pemerintah tidak akan segan-segan mengambil keputusan untuk melakukan peningkatan ke Tahap 3 jika dianggap perlu. Pemerintah mempertimbangkan pendapat dari kementerian terkait, pemerintah daerah dan para ahli,” imbuhnya dalam rapat pejabat kesehatan yang dilansir Reuters.
Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA), Senin (14/12), melaporkan penambahan 718 kasus dengan 682 merupakan kasus penularan lokal. KDCA melansir sebagian besar kasus terkonfirmasi di Seoul, Incheon dan Gyeonggi. Total kasus infeksi Korea Selatan mencapai 43.484 kasus dengan 587 kematian akibat virus asal Wuhan tersebut.
Otoritas kesehatan mengatakan gelombang infeksi baru-baru ini berpusat di sekitar pertemuan dengan teman dan keluarga. “Mohon jangan mengunjungi tempat-tempat yang ramai dan membatalkan semua pertemuan dengan keluarga atau teman,” kata Direktur KCDC, Jeong Eun-kyeong.
Di bawah penguncian Fase 3, Korea Selatan hanya memperbolehkan pekerjaan penting untuk masuk kantor serta membatasi pertemuan kurang dari 10 orang. [Mohamad Deny Irawan]

























