Bogor, Gontornews — Pendidikan rabbāniyah adalah inti dari karakteristik pendidikan Islam. Ia merupakan pendidikan yang dibimbing langsung oleh Allah SWT melalui wahyu kepada utusan-Nya, Rasulullah SAW. Kesempurnaan metode pendidikan ini diharapkan mampu menjadi solusi atas problematika dunia pendidikan saat ini.
Pendidikan bangsa Indonesia saat ini kembali mengalami masa krisis dan kepincangan yang amat serius. Hadirnya beragam dogma sekularisme serta serangkaian kurikulum yang kerap mengabaikan nilai-nilai tauhid juga menyingkirkan nilai-nilai moral syariah, kini telah banyak mewarnai dunia pendidikan kita.
Dalam disertasi Dr M Sarbini MHI, yang dipromotori oleh Prof Dr Didin Hafidhuddin MS dan Dr Endin Mujahidin MSi, disebutkan bahwa era modern saat ini, paradigma mengukur kemajuan suatu bangsa tidak lagi hanya bertumpu pada kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) saja, namun juga pada kekuatan Sumber Daya Manusia (SDM). Adanya paradigma baru tersebut, mengharuskan suatu bangsa untuk lebih memperkuat sektor pendidikan mereka.
Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul menurut perspektif Islam disebut sebagai kelompok masyarakat sābiqun bi al-khairāt (pemenang lomba kebaikan atau pencetak rekor kebaikan). “Inilah hakikat dari tujuan pendidikan, yakni mencetak manusia yang baik,” jelas H Adian Husaini MSi PhD, pada forum diskusi Sabtuan di INSISTS, 12 Juni 2010 M, silam.
Sebagaimana dirumuskan oleh Prof SM Naquib al-Attas dalam bukunya, Islam and Secularism, “Orang baik atau good man, tentunya adalah manusia yang berkarakter dan beradab. Tidak cukup seorang memiliki berbagai nilai keutamaan dalam dirinya, tetapi dia tidak ikhlas dalam mencari ilmu, enggan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, dan suka mengumbar aurat dan maksiat. Pendidikan, menurut Islam, haruslah bertujuan membangun karakter dan adab sekaligus!”
Kementerian Pendidikan Nasional sudah mencanangkan penerapan pendidikan karakter untuk semua jenjang pendidikan, mulai dari SD sampai Perguruan Tinggi. Seperti yang dituturkan Mendiknas Prof Muhammad Nuh, “Pembentukan karakter perlu dilakukan sejak usia dini agar dapat membangun kepribadian suatu bangsa.”
Menyikapi pernyataan tersebut, Sarbini, pria kelahiran Bekasi, 9 Maret 1971 ini menambahkan bahwa ada problem dasar pendidikan yang lebih utama dilihat dari perspektif Islam, yaitu sekularisme dalam dunia pendidikan.
Sebagaimana tercantum dalam UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 3. Dimana dapat dipahami bahwa pendidikan nasional berfungsi sebagai proses untuk membentuk kecakapan hidup dan karakter bagi warga negaranya dalam rangka mewujudkan peradaban bangsa Indonesia yang bermartabat.
Meski tampak ideal, namun arah pendidikan yang sebenarnya adalah sekularisme yakni pemisahan peranan agama dalam pengaturan urusan-urusan kehidupan secara menyeluruh.
“Dalam UU Sisdiknas tidak disebutkan bahwa yang menjadi landasan pembentukan kecakapan hidup dan karakter peserta didik adalah nilai-nilai dari aqidah Islam, melainkan justru nilai-nilai dari demokrasi,” lanjut pria lulusan S1 Syariah, jurusan Perdata Pidana Islam, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, ini.
Sebagai bagian dari pendidikan nasional, pendidikan Islam memiliki nilai strategis dari pembentukan karakter bangsa Indonesia. Hal ini dikarenakan Islam adalah agama fitrah manusia. Islam telah hadir dengan menyuguhkan beragam metode pendidikan terbaik, salah satunya pendidikan rabbāniyah sebagaimana yang telah disampaikan melalui para utusan-Nya.
Pendidikan rabbāniyah adalah pendidikan kepribadian yang terikat dengan ke-Tuhan-an melalui materi-materi wahyu dengan metode yang mengandung hikmah dan dengan evaluasi muhasabah serta hisbah yang berintikan pada amr ma`ruf nahi munkar.
Pendidikan rabbāniyah bertujuan membentuk karakter rabbāniyah dalam diri manusia, agar dapat menjalankan tugas dan tujuan kehidupannya, yaitu menjadi abdi Allah SWT dan khalifah di muka bumi.
Karakter rabbāniyah yang mulia dan terhormat ini hanya bisa dibentuk oleh Rasul-Rasul Allah SWT. Dalam hal ini tepatnya adalah Rasulullah Muhammad SAW, karena beliau SAW memiliki semua kompetensi sebagai pendidik karakter rabbāniyah. Semua karakter yang dimilikinya berada pada kualitas tertinggi (khuluq adzīm).
Sarbini, selaku bapak dua orang anak ini juga menerangkan bahwa pendidikan karakter rabbāniyah yang dibentuk oleh Rasulullah SAW dituntun melalui materi langsung dari sumber rubûbiyah dan tarbiyah, yaitu al-Qur`an yang merupakan kalam (kata-kata) Allah SWT.
Dalam membentuk karakter rabbāniyah, Rasulullah SAW menggunakan metode inti yaitu: (1) Pendekatan hikmah, (2) Pendekatan mau`idzah hasanah, yaitu metode-metode yang dapat menyentuh hati dan melembutkan jiwa, (3) Pendekatan jidal bi al-lati hiya ahsan (diskusi dengan metode terbaik), serta (4) Pendekatan al uswah (suri tauladan). Sedangkan evaluasi yang diselenggarakan di masa Rasulullah saw terdiri dari muhāsabah (evaluasi ke dalam), dan hisbah (evaluasi ke luar).
Pengertian rabbāniyah dalam aplikasinya menegaskan bahwa tujuan dari proses pendidikan yang benar dan dinilai berhasil adalah terbentuknya karakter rabbāniyah. Karena manusia diciptakan oleh Allah SWT memiliki amanah kehidupan, yaitu mengabdi hanya karena Allah SWT dan menjadi khalifah di muka bumi.
“Pendidikan apapun yang tidak memiliki tujuan pembentukan karakter rabbāniyah, pasti tidak benar dan akan mengalami kegagalan, lama atau singkat,” tegas Sarbini, mantan Pimpinan Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Akhawain, Bogor, 1999-2005.
Pengertian Rasulullah SAW sebagai murabbi dalam aplikasinya mengharuskan dunia pendidikan untuk memiliki pendidik kompeten seperti Rasulullah SAW. Sebagaimana Rasulullah SAW memiliki kepribadian yang terpuji, bercita-cita tinggi dan mulia, serta memiliki latar belakang pendidikan yang bersih.
Aplikasi materi al-Qur`an sebagai materi dasar dalam pendidikan rabbāniyah di masa Rasulullah SAW menuntut penyelenggara pendidikan saat ini untuk mereformulasi kembali materi-materi pendidikan Islam yang ada dalam berbagai jenjang, agar sesuai dengan materi al-Qur`an.
Aplikasi metode hikmah dalam pendidikan rabbāniyah di masa Rasulullah SAW membuka peluang yang sangat besar bagi setiap pendidik untuk melakukan inovasi ijtihadi.
Sedangkan aplikasi evaluasi pendidikan rabbāniyah di masa Rasulullah SAW terbagi dalam dua peran, yaitu peran evaluasi sebagai dasar penilaian, dan perannya dalam bidang khusus yang dinilai pada domain yang dibutuhkan oleh satu tugas khusus yang akan diemban peserta didik.
Keterangan di atas akhirnya mengajak Dosen Tetap STAI Al-Hidayah Bogor, jurusan Pendidikan Agama Islam, Program Metodologi Studi Islam, ini untuk terus menggaungkan semangat baru kepada seluruh kaum Muslimin. “Kepada para pakar dan stekholder pendidikan, tetaplah teguh dan serius dalam menggali nilai-nilai Islam dan menerapkannya di setiap aspek kehidupan,” tutupnya. <Edithya Miranti>
IDENTITAS PENULIS:
– Nama : Dr M Sarbini, MHI
– Tempat/ Tgl. Lahir : Bekasi, 9 Maret 1971
– Isteri : Yulita Ambarsari, S.S
– Anak : 2 orang
PENDIDIKAN
– Lulus 1995 IAIN (Institut Agama Islam Negeri) Syarif Hidayatullah, Jakarta
S1 Syariah, Jurusan Perdata Pidana Islam
– Lulus 2004 Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor
S2 Konsentrasi Mu`amalah Islam,
- Lulus 2012 Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor
S3 Konsentrasi Pendidikan Islam
- Pernah ikut mulazamah dengan Syeikh Abdul Aziz bin Nashir al-Julayyil
AKTIVITAS
- Dosen Tetap STAI Al Hidayah Bogor, Jurusan Pendidikan Agama Islam, Program Metodologi Studi Islam
- Pengajar Kajian Aqidah di PPIB/Markaz Islam Bogor – Masjid Raya Bogor
- Pernah membimbing umroh Manara Hasmi Tour Th 2011




















