Depok, Gontornews — Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang mempelajari al-Qur’an di usia kecil, Allah SWT akan campurkan al-Qur’an dengan daging dan darahnya.”
Masa kanak-kanak adalah masa yang sangat penting untuk menumbuhkan benih-benih cinta kepada al-Qur’an. Jika masa keemasan ini dimanfaatkan dengan baik, tentu hasilnya pun akan sangat istimewa.
Pada zaman keemasan Islam dahulu, para ulama besar telah banyak menghabiskan masa kecilnya untuk dekat dengan al-Qur’an. Mereka bahkan sudah menghafal ayat-ayat al-Qur’an tersebut di luar kepala sejak dini.
Nah, untuk menumbuhkan cinta seorang anak kepada al-Qur’an, orangtua harus terlebih dulu memperhatikan tingkatan usia anak. Karena setiap tingkatan usia memiliki cara berinteraksi dengan al-Qur’an yang berbeda-beda.
Pertama, cara berinteraksi dengan anak sejak usia 2 tahun. “Mentahfidz anak usia 2 tahun tidak mungkin sempurna,” ulas Dr Sa’ad Riyadh dalam bukunya ‘Anakku, Cintailah Al-Qur’an. Karena itu, lanjutnya, mulailah dengan menanamkan benih cinta al-Qur’an pada anak lewat keteladanan yang baik.
Sebab anak usia 2 tahun lebih banyak belajar meniru daripada belajar ucapan dan nasihat. Maka, orangtua diharapkan bisa mencontohkan bukti cintanya kepada al-Qur’an dalam kesehariannya.
Misalnya, sering membaca al-Qur’an atau menghormati al-Qur’an dengan menaruhnya di tempat tinggi dan terhormat.
Kedua, cara berinteraksi dengan anak usia 3 – 5 tahun. Pada usia ini sangat penting bagi orangtua untuk menanamkan nilai-nilai akhlak pada anak. Salah satunya adalah adab dalam memperlakukan al-Qur’an.
Dr Muhammad Ratib an-Nabulsi berkata, “Seorang anak bisa menghafal al-Qur’an sejak usia dini dan ketika beranjak dewasa bisa mulai memahami isi al-Qur’an.” Hal itu bisa terjadi, sambungnya, jika anak sudah bisa melafalkan bacaan al-Qur’an dengan baik dan benar.
Namun, sebaiknya tidak menggunakan metode kekerasan (memukul) saat proses menghafal. Ciptakan suasana yang menyenangkan agar dengan sendirinya anak suka menghafal. <Edithya Miranti>
Berikut tips agar anak cinta al-Qur’an:
- Menceritakan kisah-kisah agar anak mencintai Allah SWT dan al-Qur’an.
- Berikan keteladan dengan orangtua juga turut cinta kepada al-Qur’an.
- Bersabar dalam menghadapi perilaku anak, terutama usia balita (bawah lima tahun).
- Selalu berinovasi mencari cara hafalan yang asyik untuk anak.
- Memberi penghargaan dan meniadakan sanksi fisik.
- Mengenalkan slogan atau dalil akan pentingnya mencintai al-Qur’an.
























