Cox’s Bazar, Gontornews — Pengungsi Rohingya yang berdiam di Bangladesh melakukan aksi diam, Selasa (25/8). Gerakan diam ini dilakukan karena pengungsi Rohingya menganggap PBB tidak menyebut tindakan Myanmar sebagai genosida.
“Kami mengadakan protes diam dengan tetap berada di dalam rumah karena kami ingin kembali ke rumah dengan layak dan bermartabat. Kami ingin menyampaikan kesedihan yang kami rasakah bagi mereka yang terbunuh selama genosida,” ungkap Shafik Ahmed kepada Dhaka Tribune.
Dalam aksi ini, para pengungsi menutup rapat pintu rumah dan toko-toko untuk memperingati “Hari Peringatan Genosida Rohingya”. Pemerintah maupun pihak kepolisian setempat juga tidak mengizinkan ada kendaraan yang masuk ke wilayah pengungsian di Cox’s Bazar.
Ketua Masyarakat Arakan Rohingya untuk Perdamaian dan Hak Asasi Manusia, Mohibullah, menyampaikan bahwa pengungsi menutut 4 hal dalam peringatan 3 tahun eksodus etnis Rohingya dari Rakhine ke Bangladesh.
“Kami semua tinggal di dalam rumah sebagai protes diam. Tidak ada yang pergi bekerja, tidak ada yang membuka toko dan tidak ada yang pergi ke pasar hari ini. Semua tidak ada yang keluar,” kata Mohibullah.
“Hari ini, kami meminta komunitas internasional untuk lebih dahulu menyatakan apa yang terjadi pada kami sebagai genosida. Kedua, kami ingin kembali (ke Rakhine-Myanmar) dengan standar keamanan internasional,”
“Ketiga, bawa kasus kami ini ke Mahkamah Internasional dan Pengadilan Kriminal Internasional untuk kepastian keadilan bagi kami,” tambah Mohibullah.
Mohibullah juga mendesak komunitas internasional untuk memastikan bahwa pengungsi Rohingya diizinkan kembali menggunakan hak politiknya dalam pemilu Myanmar mendatang. [Mohamad Deny Irawan]























