Berlin, Gontornews — Kanselir Jerman, Angela Merkel, Senin (14/12), kemungkinan tidak akan mencabut penguncian hingga awal tahun depan. Kebijakan ini tidak lepas dari kesepakatan Merkel dengan pemimpin negara bagian Jerman untuk menutup sebagian besar toko mulai Rabu 16 Desember 2020 hingga 10 Januari 2021 mendatang.
“Pelonggaran komprehensif sangat tidak mungkin,” kata Kepala Staf Kanselir Angela Merkel, Helge Braun, kepada RTL yang dilansir Reuters.
“Januari dan Februari selalu menjadi bulan yang sulit dalam hal infeksi saluran pernapasan,” imbuhnya.
Dalam pembatasan ketat kali ini, Jerman memerintahkan seluruh toko untuk tutup kecuali toko-toko penting seperti apotek, bank dan supermarket yang tetap beroperasi mulai 16 Desember mendatang.
Robert Koch Institute (RKI) melaporkan penambahan lebih dari 16.000 kasus dan 188 kematian pada Senin (14/12). Angka ini memang jauh menurun ketimbang kasus infeksi harian yang terlapor akhir pekan lalu. RKI menjelaskan bahwa penurunan ini terjadi seiring dengan sedikitnya tes yang dilakukan serta belum optimalnya data yang masuk ke RKI selama akhir pekan.
Sementara itu, Menteri Ekonomi Jerman, Peter Altmaier, mengatakan pilihan untuk menutup sebagian besar aktivitas sosial dan ekonomi diperlukan untuk mengendalikan pandemi dan mencegah resesi tahun depan.
Ia juga memprediksi Jerman akan memasuki resesi terburuk sejak Perang Dunia II pada tahun 2020. Altmaier mengatakan semakin lama penguncian, semakin besar dampak ekonominya.
“Adalah mungkin, jika kita pintar, untuk melindungi ekonomi,” katanya kepada Deutschlandfunk.
“Ini membutuhkan bantuan keuangan dan kami tidak harus selalu memperpanjang penguncian tanpa batas waktu karena kami tidak cukup berani,” jelas Altmaeir.
Berbeda dengan Inggris dan Amerika Serikat, Jerman belum mendapatkan persetujuan untuk penggunaan vaksin Covid-19. Sebagai anggota Uni Eropa, Jerman harus menunggu persetujuan regulator obat Eropa untuk vaksin yang dikembangkan oleh Pfizer dan BioNTech.
Menteri Kesehatan Jerman, Jens Spahn, mengungkapkan kekesalannya terhadap putusan European Medicines Agency (EMA), sebagai regulator obat Uni Eropa, seputar keamanan vaksin.
“Semua data yang diperlukan di BioNTech telah tersedia,” kata Spahn.
“Inggris dan Amerika Serikat telah memberikan persetujuan. Penilaian data dan persetujuan oleh EMA harus dilakukan sesegera mungkin,” tutup Spahn. [Mohamad Deny Irawan]























