Gontornews — Masjid Sokambang terletak di Desa Kebunagung atau sekitar satu kilometer dari kompleks makam raja-raja Sumenep, Asta Tinggi. Masjid ini berada di antara permukiman padat penduduk di belakang Kantor Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Sumenep.
Menurut literasi yang didapat Abdul Karim takmir masjid Sokambang, masjid ini dibangun oleh Sultan Abdurahman Pakunantaningrat kesatu, yang menjabat sebagai adipati atau raja Sumenep ke-32 tahun 1811 hingga 1854.
Karim menjelaskan Masjid Sokambang merupakan masjid ketiga yang dibangun oleh kalangan kerajaan di Kabupaten Sumenep, selain Masjid Lajuh yang dibangun oleh Raja Sumenep ke-21 Kanjeng Pangeran Ario Anggadipa (1626-1644) dan Masjid Agung Sumenep yang dibangun pada masa Raja Sumenep ke-31 Panembahan Sumolo Asirudin (1779-1811).
Ketika memasuki ruang utama masjid, masih tampak sisa-sisa bangunan tua bersejarah yang masih berdiri kokoh, juga tembok-tembok dan struktur batu bata besar dengan dua pintu dengan pengunci kayu sedikit usang.
Mimbar tempat imam masjid hanya cukup untuk satu orang. Konon dulu bangunan itu merupakan tempat persinggahan sementara keluarga raja untuk beristirahat sejenak dan beribadah sebelum melanjutkan perjalanan menuju kompleks pemakaman Asta Tinggi.
Menurut cerita dan pitutur orang-orang tua Sumenep, masjid itu memendam banyak cerita mengenai raja-raja kesultanan Sumenep yang akan berziarah ke makam leluhurnya di Asta Tinggi.
“Dulu bahkan ceritanya Sultan juga sering ke masjid ini,” kata Kiyai Amiruddin, salah satu tokoh di Desa Kebunagung, dalam siaran laman resmi Pemerintah Kabupaten Sumenep.
Siaran di laman resmi Pemerintah Kabupaten Sumenep juga menyebutkan bahwa masjid yang dibangun oleh putra Panembahan Sumolo itu dulu biasa digunakan untuk mempelajari kitab-kitab agama klasik. Ulama yang tercatat pernah mengajar antara lain Kyai Anjuk dan Kiyai Bayanullah.
Di kalangan keluarga keraton Sumenep ada cerita mengenai Raden Ario Abdul Ghani Atmowijoyo, salah satu bangsawan Sumenep, yang selalu menyempatkan berhenti di Masjid Sokambang untuk shalat sebelum ziarah ke Asta Tinggi.
Masjid ini biasanya digunakan para bangsawan keturun Kerajaan Sumenep untuk shalat, sebelum berziarah ke makam para bangsawan, yaitu di asta tinggi. Hingga kini, Masjid Sokambang sudah mengalami perbaikan tanpa mengubah unsur kekunoan bangunan masjid yang dahulu.
Menurut Kyai Amir, sebelum berziarah ke makam para bangsawan, keturunan bangsawan selalu menyepatkan ke masjid tersebut. Bahkan di bulan Ramadhan ini, banya warga sekitar yang selalu datang ke masjid ini.
Sejak dulu masjid tersebut sering dibanjiri oleh air yang meluap dari Sungai Kebunagung, sebab masjid tersebut dibangun berdekatan dengan sungai. Sehingga masjdi tersebut dinamakan Masjid Sokambang, yang artinya suka mengambang.[fathurroji]
.


















