Bandung, Gontornews — Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem pendidikan nasional termasuk di Perguruan Tinggi Umum (PTU). PAI diharapkan mampu memuaskan kognisi dan afeksi keagamaan mahasiswa untuk memperkokoh budaya yang kuat dalam mengawal perkembangan sains dan teknologi.
Mengenai pendidikan agama untuk mahasiswa PTU, Indonesia sudahmemiliki bekal berupa undang-undang sebagai legal standingnya. Sebagaimana disebutkan dalam Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional dan UU Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen pasal 3, dimana diantara isinya mengandung maksud bahwa pendidikan agama diharapkan
berkonstribusi kuat dalam mencapai tujuan pendidikan nasional.
Sehubungan dengan itu, dalam pasal 37 ayat 1a UU No. 20/2003 tentang sistem Pendidikan Nasional ditegaskan bahwa pada setiap jenis, jalur, dan jenjang pendidikan apapun wajib memuat pendidikan agama.
Dalam struktur pendidikan tinggi, mata kuliah pendidikan agama masuk ke dalam kelompok Mata Kuliah Umum (MKU) serta wajib diikuti oleh semua mahasiswa dan wajib lulus. Dengan begitu diharapkan lahir para lulusan yang berkepribadian unggul, beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
“Agar harapan pemerintah sebagaimana tertuang dalam undang-undang di atas dapat tercapai, maka mata kuliah PAI harus diampu oleh dosen agama yang memiliki kompetensi,” terang Dr Elsa Silvia Nur Aulia MPd. Dalam hal ini, lanjutnya,ada empat macam kompetensi yang harus dimiliki dosen yakni kompetensi pedagogik, kompetensi professional, kompetensi sosial, dan kompetensi kepribadian.
Kompetensi pedagogik meliputi penguasaan teori serta praktek tentang pembelajaran yang didukung oleh ilmu sosiologi, psikologi, serta metodologi pengajar. Pada disertasi ini, Dr Elsa memfokuskan pada kompetensi pedagogik dosen dengan beberapa alasan yakni, pertama, fokus dalam penelitian ini adalah penggunaan pendekatan integratif agama dengan sains dalam pembelajaran PAI di ITB, hal tersebut berangkat dari kompetensi pedagogik dosen.
Kedua, jika penelitian ini mengupas tentang keempat kompetensi yang harus dimiliki oleh dosen, baik pedagogik, profesional, sosial serta kepribadian maka penelitian ini dikhawatirkan akan menjadi bloor, sehingga inti dari permasalahan menjadi tidak jelas. Maka, berdasarkan hal tersebut peneliti mengambil salah satu kompetensi yakni kompetensi pedagogik sebagai salah satu fokus penelitian.
Kualitas kompetensi pedagogik dosen akan semakin baik apabila didukung oleh pemahaman yang kuat tentang filsafat dengan segala cabangnya, sosiologi, dan psikologi. Dosen pengampu sendiri harus menguasai teori dan praktik mengajar dengan menggunakan metode pengajaran yang tepat.
“Pendekatan pembelajaran mata kuliah agama Islam bisa beragam yakni pendekatan parsialistik, pendekatan holistik, dan pendekatan integratif,” ulas dosen pengampu mata kuliah Agama dan Etika Islam, Institut Teknologi Bandung itu.
Adapula dosen yang menggunakan pendekatan integratif yakni dengan menghubungkan dan menyatukan antara ajaran agama Islam (transendent) dengan persoalan bumi (immanent), antara ilmu dirásah Islámiyah dengan ilmu objektif ilmiah (sains) seperti astronomi, oceanografi, geologi, biologi, kedokteran, farmasi, dll.
Dosen ini berpandangan bahwa kaitan antara ilmu dirásah Islámiyah dengan sains bukan saja tidak akan terjadi dikhotomi, tetapi justru saling melengkapi satu sama lain. Menurut Amin Abdullah bahwa ilmu apapun tidak bisa berdiri sendiri (to be single entity), baik ilmu agama, sosial, humaniora, maupun ilmu kealaman, tetapi harus saling berhubungan untuk secara bersama-sama memahami persoalan hidup yang dihadapi manusia sekaligus memecahkannya.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya keharusan seorang dosen dalam menguasai teori dan praktik pengajaran meskipun ia berbeda dalam menggunakan pendekatan pembelajaran. Salah satu pendekatan dalam pembelajaran mata kuliah PAI adalah integratif yang menghubungkan dirásah Islámiyah dengan ilmu objektif ilmiah (sains).
Secara teoretis bahwa penggunaan pendekatan pengajaran yang tepat dan baik akan berpengaruh baik pada ketercapaian learning outcomes, begitu pula sebaliknya. Rumusan-rumusan learning outcomes pada mata kuliah PAI di PTU kurang lebih sama yaitu menyentuh aspek professional responsibility (tanggung jawab keilmuan, yakni memahami Islam secara holistik integratif), social impacts (berdampak positif secara sosial atau bermanfaat bagi masyarakat), serta contemporary issues (sanggup memecahkan persoalan kekinian dan kedisinian berlandaskan nilai-nilai Islam).
Penelitian ini menggunakan metode campuran (mix methods) dengan metode sequential exploratory design. Adapun subjek penelitian ini adalah mahasiswa yang sedang mengambil mata kuliah PAI di ITB, dengan sampel penelitian yang diambil adalah 100 mahasiswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket, wawancara, observasi, studi dokumentasi, dan tes.
Mengacu pada hasil-hasil penelitian yang Dr Elsa dapatkan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
Pertama, kompetensi pedagogik dosen PAI di ITB baik secara kualitatif maupun kuantitatif sesuai dengan tuntutan UU Pendidikan nomor 14 tahun 2005 yang meliputi kompetensi memahami mahasiswa, kompetensi manajemen pembelajaran, kompetensi penggunaan teknologi media pembelajaran, serta
kompetensi manajemen evaluasi hasil belajar.
Kedua, pendekatan integratif agama dengan sains dilakukan oleh dosen PAI di ITB secara kualitatif maupun kuantitatif baik dengan memegang paradigma makro teologis unity of universe dan paradigma mikro teologis unity of sciences sebagai landasan episthem. “Sehingga mahasiswa mendapatkan
ajaran Islam dari dua sisi, yakni aspek normatif-subjektif-doktrinal di satu sisi dan aspek ilmiah-objektif-solutif di sisi lain,” jelas perempuan kelahiran Sukabumi, 14 Januari 1990 itu.
Ketiga, pencapaian learning outcomes mata kuliah PAI di ITB secara kualitatif maupun kuantitatif aspek professional responsibilities, social impacts, maupun contemporary issues baik. Keempat, pendekatan integratif agama dengan sains dalam pengajaran mata kuliah PAI secara kuantitatif telah terbukti berpengaruh untuk mencapai learning outcomes aspek professional responsibilities, social impacts, dan
contemporary issues.
“Kelima, faktor-faktor lain di luar pendekatan integratif agama dengan sains yang mempengaruhi pencapaian learning outcomes, secara kualitatif maupun kuantitatif adalah lingkungan mahasiswa (baik lingkungan keluarga maupun teman sejawat), kemampuan intelektual mahasiswa, kondisi
pembelajaran di dalam kelas, juga kegiatan mentoring dan ITB SC,” pungkas alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor Putri tahun 2007 tersebut. <Edithya Miranti>
Biodata Penulis
Nama Lengkap : Dr Elsa Silvia Nur Aulia MPd
Tempat Tanggal Lahir : Sukabumi, 14 Januari 1990
Suami : Fakar Daras Kamal SFarm Apt
Alumni : Pondok Modern Darussalam Gontor Putri tahun 2007
Pekerjaan : Dosen Pengampu Mata Kuliah Agama dan Etika Islam, Institut Teknologi Bandung.
Pendidikan :
- S1, Jurusan Pendidikan Bahasa Arab, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), 2012.
- S2, Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), 2014.
- S3, Program Studi Pendidikan Islam, Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati, Bandung, 2020.
Prestasi :
- Juara II Lomba Membaca Puisi Arab Tingkat Mahasiswa se-Indonesia Festival Timur Tengah ke II Universitas Indonesia, 2011.
- Juri Membaca Puisi Arab Tingkat Mahasiswa se-Indonesia di Festival Kebudayaan Arab, UPI Bandung, 2020.
Pengalaman :
- Kursus Bahasa Arab Salman ITB untuk Mahasiswa dan Umum, di Salman ITB, 2014.
- Guru di Primary Al Irsyad Satya Islamic School di Kota Baru Parahyangan, 2014-2016.
- Staff Pengajar di UPT Bahasa Institut Teknologi Bandung, 2018.
Penelitian :
- Pola Pembinaan Kesadaran Berderma dalam Meningkatkan Kepedulian Sosial Berbasiskan Digital; Program Penelitian, Pengabdian Pada Masyarakat dan Inovasi (P3MI) ITB, 2020.


















