Pondok pesantren berperan penting dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia. Selain sebagai tempat menimba ilmu agama, pesantren juga menjadi wadah pembentukan karakter dan kemandirian para santri.
Namun, tantangan zaman semakin kompleks, dan pesantren dituntut untuk lebih mandiri dalam pembiayaan operasionalnya. Salah satu solusinya melalui pengembangan unit usaha pesantren. Melalui usaha mandiri, pesantren tidak hanya mengurangi ketergantungan pada donasi, tetapi juga dapat mencetak santri yang lebih siap menghadapi dunia nyata.
Kemandirian juga memungkinkan pesantren untuk lebih fleksibel dalam menjalankan berbagai program pendidikan dan sosial. Misalnya, pesantren bisa menyediakan beasiswa bagi santri kurang mampu, meningkatkan fasilitas belajar, hingga membuka peluang kerja bagi masyarakat sekitar.
Berikut ini sejumlah pesantren yang tumbuh dan berkembang dengan kemandirian ekonominya. Melalui unit-unit usaha, pesantren mampu memberikan banyak manfaat untuk keberlangsungan pesantren dan masyarakat.
Pondok Pesantren Al Ittifaq Bandung
Pondok Pesantren Al Ittifaq Bandung mengolaborasikan kurikulum pendidikan agama dan pertanian. Selain memberi bekal ilmu pertanian kepada para santri, bisnis pertanian yang dikelola Pesantren Al Ittifaq bisa menciptakan penghasilan sendiri dan tak bergantung dari donatur.
Pondok Pesantren Al Ittifaq –sebelumnya bernama Pesantren Ciburial– didirikan pada 1 Februari 1934 oleh KH Mansyur di Kampung Ciburial, Desa Alam Endah, Kecamatan Rancabali, Bandung, Jawa Barat. Berada di ketinggian 1.250 m di atas permukaan laut, pesantren berdiri di atas tanah yang subur sehingga cocok dikembangkan jadi lahan pertanian.
Penerusnya, KH Fuad Affandi, melakukan perubahan besar, terutama dalam proses pengajaran dan pemberdayaan para santri di bidang pertanian. Di pesantren ini, para santri dibekali kemampuan bertani melalui kurikulum agribisnis. Kiai Fuad meyakini tidak semua lulusan pondok akan menjadi ulama dan mengajar. Karenanya, mereka perlu dibekali kecakapan hidup untuk mandiri secara ekonomi dengan belajar bertani.
Pesantren Al Ittifaq menerapkan sistem pertanian organik terpadu sehingga semua bahan dapat dimanfaatkan secara maksimal. Pada lini pascapanen, santri belajar memilah produk berdasar kelas atau grade sesuai target pasarnya.
Melalui Kopontren Alif yang berdiri pada 1997 dengan pengelolaannya terpisah dengan manajemen pesantren, hasil pertanian kian meningkat. Saat ini, Kopontren Alif mengelola 130 hektare lahan pertanian milik 270 petani yang tergabung dalam lima kelompok tani di Kabupaten Bandung dan Bandung Barat. Para petani tersebut menjalankan pola tanam di atas lahan seluas 14 hektare dan menanam berbagai sayuran sesuai kebutuhan pasar sehingga hasil panen sudah pasti ada pembelinya.
Keuntungan yang diperoleh Kopontren selanjutnya digunakan untuk menyantuni 500 santri yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren Al Ittifaq. Para santri tersebut umumnya berasal dari keluarga kurang mampu dan terlantar.
Bisnis pertanian organik mengantarkan Pondok Pesantren Al Ittifaq menjadi pusat pengembangan model pertanian organik. Saat ini terdapat kurang lebih 90 petani binaan yang tergabung dalam sembilan kelompok tani dan ternak di wilayah sekitar pesantren.
Setiap pekan Pondok Pesantren Al Ittifaq mengirimkan 3-4 ton sayuran ke berbagai tempat di Jakarta dan Bandung secara bertahap sebanyak tiga kali sepekan. Hasil pertaniannya dipasarkan ke berbagai pasar modern dan tradisional.
Pesantren Al Ittifaq bekerjasama dengan Japan International Corporation Agency (JICA) dalam upaya pengembangan budidaya jeruk Dekopon. Dengan langkah-langkah inovatif yang sudah dilakukan, Ponpes Al Ittifaq berhasil meraih penghargaan Kalpataru pada tahun 2003 atas usahanya menjaga kelestarian alam dengan sistem pertanian organik dan menjadi salah satu model eco-pesantren serta menjadi pionir dalam program kemandirian ekonomi pesantren yang digagas Gubernur Jabar Ridwan Kamil yaitu One Pesantren One Product (OPOP).
Pondok Pesantren Sidogiri
Perjalanan panjang Baitul Maal wat Tamwil (BMT) Unit Gabungan Terpadu (UGT) Pondok Pesantren Sidogiri menjadi salah satu lembaga keuangan syariah terkemuka di Indonesia tak lepas dari peran besar pendirinya, KH Mahmud Ali Zain Sidogiri. Berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi ekonomi masyarakat Muslim, khususnya kaum dhuafa dan mustadh’afin, sang kiai bersama rekan-rekannya mendirikan BMT Maslahah pada tahun 1998.
“Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa kaum mustadh’afin bukan berarti orang-orang lemah, tetapi mereka yang dilemahkan oleh sistem. Ini yang membuat kami merasa harus bergerak,” ujar KH Mahmud Ali Zain Sidogiri dalam wawancara bersama Prof M Nur Kholis Setiawan.
Pada tahun 1998, ketika Indonesia dilanda krisis ekonomi, muncul ide untuk mendirikan lembaga keuangan berbasis syariah yang dapat menjadi solusi bagi umat. Konsep BMT Maslahah pun digagas dengan modal awal yang terbatas, mengandalkan semangat Bondo Nekat alias modal keberanian.
“Saat itu kami membaca tulisan Prof Amin Aziz dari Aceh tentang konsep BMT. Setelah diskusi dengan teman-teman, kami merasa ini bisa menjadi solusi ekonomi bagi masyarakat,” ungkapnya.
Dalam beberapa bulan pertama, antusiasme masyarakat terhadap BMT Maslahah sangat tinggi. Tanpa diduga, dana yang terkumpul mencapai Rp300 juta. Banyak nasabah yang menarik uangnya dari bank konvensional yang kolaps akibat krisis dan memilih menyimpannya di BMT Maslahah.
“Sejak awal, kami berprinsip bahwa setiap tahun harus ada cabang baru. Alhamdulillah, saat ini BMT Maslahah telah memiliki 106 cabang di berbagai daerah,” tambahnya.
Seiring berkembangnya BMT Maslahah, pada tahun 2000 didirikan UGT (Usaha Gabungan Terpadu) Sidogiri untuk menjangkau lebih banyak masyarakat. Perbedaannya, jika di BMT Maslahah simpanan pokok hanya Rp10.000, maka di UGT simpanan pokoknya mencapai Rp1 juta.
UGT Sidogiri berkembang pesat dan hingga tahun 2016 telah memiliki 286 cabang di delapan provinsi: Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Jawa Barat, dan DKI Jakarta. Dengan pertumbuhan tersebut, UGT Sidogiri resmi bertransformasi menjadi lembaga keuangan syariah berskala nasional.
Kiai Ali Zain optimis UGT Sidogiri akan terus berkembang dan memberikan manfaat bagi Pesantren Sidogiri dan lebih luas bagi umat. “Kami yakin, selama prinsip kejujuran dan kebermanfaatan dipegang teguh, UGT Sidogiri akan tetap menjadi solusi ekonomi bagi masyarakat,” pungkasnya.
Pesantren Pertanian Darul Fallah Bogor
Pesantren Pertanian Darul Fallah Bogor menjadi contoh sukses dalam mencetak santri yang memiliki jiwa wirausaha di sektor agribisnis. Terletak di Jl Raya Tanjakan Cinangneng No.44, Bojong Jengkol, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, pesantren ini berdiri di atas lahan seluas 25 hektare, dengan 10 hektare digunakan untuk pendidikan dan 15 hektare lainnya untuk pertanian.
Wakil Pimpinan Pesantren Pertanian Darul Fallah Bidang Pendidikan, Maman, mengungkapkan bahwa selain mengajarkan ilmu agama, pesantren ini juga membekali sekitar 200 santri dengan keterampilan bertani, beternak, budi daya perikanan, serta pengolahan hasil pertanian.
“Selain pendidikan agama Islam, kami juga membekali para santri dengan ilmu pertanian dan kewirausahaan. Kami juga mengarahkan mereka untuk melek digitalisasi,” ujar Maman dilansir bisnis.com.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi dan digitalisasi sangat penting agar santri dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Ia mencontohkan Jepang dan negara maju lainnya yang telah memanfaatkan teknologi pertanian untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Oleh karena itu, para santri didorong untuk menggunakan teknologi, mulai dari aplikasi perbankan digital hingga sistem pembayaran QRIS dalam pemasaran hasil pertanian.
Pondok Pesantren Sunan Drajat
Pondok Pesantren Sunan Drajat, Paciran, Lamongan, merupakan salah satu pesantren peninggalan Wali Songo. Pesantren yang berdiri di atas lahan 140 hektare dengan 14.000 santri tersebut diasuh oleh sosok kiai kharismatik, Prof Dr KH Abdul Ghofur.
Dalam membangun kemandirian ekonomi tersebut, Gus Anas Alhifni, Kepala Bidang Perekonomian Pesantren, menyatakan bahwa pesantren memiliki badan khusus yakni divisi perekonomian Pesantren Sunan Drajat.
“Jadi di pesantren ada divisi khusus yakni perekenomian Pondok Pesantren Sunan Drajat yang membawahi seluruh unit-unit usaha,” terangnya dilansir NU Online.
Unit-unit usaha yang dimiliki pesantren ini bergerak dalam bidang perdagangan, produksi hingga material. “Dalam bidang perdagangan, kami memiliki toserba, ada sekitar empat toserba di internal pesantren. Selain itu ada food court yang ada di kawasan putra maupun kawasan putri,” ujarnya.
Tak hanya itu, pesantren ini juga bergerak dalam produksi garam SSD mencapai 50 ton sehari. Ada juga usaha mandiri yakni Mustika Sunan Drajat yang bergerak dalam bidang material. “Ada lagi dalam bidang produksi pupuk hingga pabrik kapal,” jelasnya.
Tidak hanya berdaya di dalam negeri, Pesantren Sunan Drajat juga mengepakkan sayap di luar negeri. Tercatat hingga saat ini, ada sembilan restoran di Malaysia. “Kami juga mengembangkan bisnis di luar negeri. Di Malaysia sudah berdiri 9 restoran,” terangnya.
Kesuksesan bisnis pesantren ini tak luput dari dukungan penuh dari pengasuh, santri, hingga alumni. “Perkembangan bisnis yang sedemikian rupa tidak lepas dari sinergi antara pengasuh, santri, dan alumni di dalam maupun luar negeri,” ucapnya.
Gus Anas juga mengungkapkan bahwa Pesantren Sunan Drajat sudah bekerjasama dengan One Pesantren One Product (OPOP) Jawa Timur. Oleh karena itu, OPOP diharapkan mampu mendorong pesantren yang berdaya secara ekonomi dan mandiri. []






















