Depok, Gontornews — Rombongan PKU (Program Kaderisasi ‘Ulama) UNIDA Gontor XIII, Selasa siang (17/19) menyambangi STKQ (Sekolah Tinggi Kuliyyatul Qur’an) Al-Hikam, Depok.
Acara Workshop Pemikiran & Peradaban Islam ini dimulai sekitar pukul 14.00 WIB. Diawali dengan sambutan dari tuan rumah, Adib Minanul Cholik MA, ketua STKQ Al-Hikam, dan perwakilan PKU Gontor yakni Dr Nur Hadi Ihsan.
Selanjutnya sesi presentasi dari para narasumber yang ketiganya merupakan para peserta PKU. Mereka adalah Cep Gilang Fikri ash-Shufi, Achmad Ilham Maulana, dan Nur Laili Ahmada.
Pada kesempatan pertama, Cep Gilang Fikri ash-Shufi, menyampaikan makalah berjudul, “Kritik Pemikiran John Wanshbrough tentang al-Qur’an”. Sedangkan pembicara kedua yakni Nur Laili Ahmada, dengan tema makalah, “Konsep Kafir dalam al-Qur’an”.
Dalam pembahasannya, Laili menjelaskan definisi kafir baik secara etimologi, terminologi, dan maknanya dalam pandangan al-Qur’an. Secara teologi konsep kafir dalam al-Qur’an berarti ingkar secara akidah, ingkar dalam perkataan, dan ingkar dalam perbuatan. Kata kafir dalam teologi juga bisa diartikan segala bentuk keengganan dalam menuruti perintah Allah SWT.
Dalam kesimpulannya, Laili menyampaikan bahwa kata kafir sendiri memiliki beragam makna. Bisa ditempatkan dalam perspektif teologi maupun sosial. “Karenanya jangan sampai salah dalam menempatkan setiap makna tersebut agar masyarakat tidak salah dalam memaknai kata kafir itu sendiri,” ujarnya kepada Gontornews.com.
Usai Laili, pembicara ketiga yakni Achmad Ilham Maulana, lanjut berbicara dengan membahas tema berbeda, “Khalafullah dan Kisah-Kisah Al-Qur’an; Sebuah Tinjauan Kritis Kitab al-Fann al-Qashasi fi al-Qur’an al-Karim)”.
Diterangkannya, bahwa Khalafullah telah menganggap kitab al-Qur’an hanya sebatas kitab sastra. Sebagaimana ia menganggap bahwa Muhammad adalah pengisah dalam berbagai kisah yang ada di al-Qur’an.
Menurut Khalafullah, kisah-kisah di dalam al-Qur’an dibuat Muhammad dengan tujuan untuk menyampaikan pesan agama yang dibawanya. Sehingga Khalafullah pun dengan tegas menampik kebenaran kisah al-Qur’an dan menyatakan bahwa ada campur tangan Muhammad di dalamnya.
Namun lagi-lagi, dengan berbagai dalil yang telah ada, pembicara menegaskan bahwa semua tuduhan tersebut tidaklah benar. Dan al-Qur’an bukanlah buatan manusia karena tidak ada satu orang pun yang bisa menandingi satu ayat saja di dalam al-Qur’an. [Edithya Miranti]
























