Tak terasa waktu terus bergulir, tanpa ada yang bisa menghentikan. Dan Allah SWT telah bersumpah, “Demi waktu,” dalam surah al-‘Ashr. Itu berarti, waktu amat penting dan harus diperhatikan. Jika tak ada waktu, niscaya tak akan ada perjalanan umur manusia. Tidak memperhatikan waktu dan umur, kehidupan akan menjadi sia–sia. Maka, pada ayat selanjutnya Allah mengingatkan, “Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat menasihati dalam menetapi kesabaran.”
Sebulan lalu kita telah mengawali tahun baru Hijriah 1430. Lantas apa yang akan kita perbuat di tahun mendatang untuk masa depan diri, bangsa dan agama? Manusia telah Allah ciptakan sebagai makhluk sosial, yang selalu berhadapan dengan berbagai problem hidup maupun kehidupan. Namun, di antara makhluk yang Allah ciptakan, manusia menjadi makhluk paling potensial dengan segala kelebihannya. Dengan modal itu, manusia bisa mengatasi problem hidupnya. Karena, tak mungkin Allah memberi suatu beban atau masalah pada hamba-Nya yang tak kuat memikulnya.
Hijrah secara harfiah berarti berpindah, meninggalkan, berpaling, dan tidak memedulikan lagi. Namun yang lebih penting: apa yang berhijrah? Hijrah batiniah (maknawi/filosofis) bermakna berpindahnya seseorang dari salah menuju benar karena Allah (lillâh), dengan niat yang benar, ikhlas dan akidah yang lurus. Hijrah zahiriah (makâni/tempat/fisik) adalah berpindahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah pada 622 M, dalam bentuk perbuatan nyata. Makna hijrah akan menjadi lebih penting jika dilihat secara filosofis, hingga maknanya bagi kehidupan bangsa ini begitu nyata.
Dalam hal apa saja seorang mukmin itu berhijrah? Tentu, dalam segala aspek kehidupan menuju nilai-nilai dan ruh akidah, syariah, akhlak, hingga adat (kebiasaan) islami. Semua menuju kehidupan yang lebih manusiawi, sesuai dengan fitrah yang telah tersurat dan tersirat dalam al-Qur`an dan Sunnah Nabi. Lalu, dari mana hijrah harus dimulai? Dari dalam diri sendiri, kemudian keluarga dan masyarakat. Hijrah sangat perlu, untuk mengukur diri dan kemampuan, seberapa wujud manusiawi kita di hadapan Allah dan manusia.
Hijrah dan tahun Hijriah adalah tonggak kemerdekaan identitas diri dalam akidah (keyakinan), sibghah (celupan), amaliah (perbuatan), dan harakiyyah (gerakan). Lanâl-maulâ wa lâ maulâ lahum. Untuk menjalankan keislaman, tak perlu melewati toleransi terhadap kemungkaran atau kemaksiatan. Jadi, bukan karena alasan keturunan, kekayaan, kejayaan, atau hal-hal keduniaan lainnya, lantas kita rela mengorbankan harga diri, identitas sebagai Muslim.
Fastabiqul-khairât. Berpaculah, jangan menoleh! Rebutlah tongkat risalah kemanusiaan! Bersaing dengan luar Islam. Dan jangan terbalik: berebut dengan keluarga sendiri, sesama umat Islam, namun tak berani bersaing dengan pihak luar. Atau, bersaing hanya untuk menjadi makmum dan kuli pihak luar umat Islam saja.
Wa’tasimû bihablil-lâh. Ada orang mengindonesiakan dengan ungkapan unik: “Kita berfastabiqul, dan kita juga berwa’tasimû, tapi jangan lupa berwalâ tafarraqû, dan berwata’âwanu.” Bertolong-tolongan, dan tetap pada pegangan yang kuat dalam tuntunan Allah. Memosisikan diri sebagai mundzir (yang memberi peringatan), bukan mundzar (yang terus diperingatkan).[]
























