Idlib, Gontornews — Selama berpekan-pekan, Provinsi Idlib Suriah – benteng terakhir pemberontak yang tersisa di Suriah- telah diserang oleh pasukan pemerintah Suriah dan Rusia. Tembakan artileri, roket, dan pengeboman udara telah menghancurkan kota. Masyarakat Medis Amerika Suriah (SAMS), sebuah organisasi bantuan medis, telah menutup operasi di dua rumah sakit besar di wilayah tersebut.
Dikutip dw.com, Medico International, organisasi bantuan dan hak asasi manusia, telah melaporkan bahwa selama beberapa pekan terakhir, sekitar 100 rumah sakit telah sengaja dibom. Karena serangan tanpa henti ini, ratusan ribu warga sipil meninggalkan rumah mereka. Menurut agen bantuan Response Coordination Group Suriah, sekitar 217.000 orang telah melarikan diri sejak November.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah memperingatkan bahwa eksodus massal pengungsi baru dari Suriah – mirip dengan yang terjadi pada tahun 2015, ketika sejumlah besar pencari suaka mengalir ke Eropa – mungkin akan segera terjadi. Dia mengatakan pemboman di Provinsi Idlib telah mengusir 80.000 warga sipil dari wilayah itu, yang kini menuju Turki. Presiden mengatakan negaranya tidak dapat “memikul beban ini dengan sendirinya.” Ia menambahkan, “semua negara Eropa, dan terutama Yunani, akan merasakan konsekuensi negatif” dari eksodus ini.
Kanselir Jerman Angela Merkel tampaknya telah memperhatikan peringatan Erdogan dan dilaporkan berencana untuk mengunjungi ibukota Turki, Ankara, pada bulan Januari. Sejauh ini, pemerintah Jerman belum secara resmi mengonfirmasi rencana pertemuan dengan Presiden Turki. Jika pertemuan itu terjadi, Merkel akan melobi Erdogan untuk tetap menghidupkan perjanjian pengungsi UE-Turki, yang dicapai pada tahun 2016. [RM]























