Lombok Utara, Gontornews — Merespons kebutuhan logistik yang mendesak, ACT mulai mengirimkan ribuan paket bahan pangan untuk pengungsi gempa Lombok. Selepas Salat Jumat (10/8), total 5.000 paket logistik pangan dan non pangan berangkat dari Posko Logistik ACT di Jalan Brawijaya, Kota Mataram.
Dari Kota Mataram, konvoi paket logistik diangkut dengan tiga truk. Tujuan akhir truk-truk berisi bahan pangan, selimut, terpal, dan karpet ini menuju sejumlah posko yang didirikan ACT di wilayah Lombok Barat, Lombok Utara, dan Lombok Timur.
Memasuki hari keenam pascagempa besar 7,0 SR mengguncang daratan Pulau Lombok, kabar pilu belum sepenuhnya membaik. Ekonomi pulau ini, khususnya wilayah Lombok Utara, masih lumpuh total. Pasar ambruk, begitu juga dengan ruko dan toko kelontong sepanjang jalan. Hanya sisa puing dan gelap kalau malam datang.
Sementara itu, ratusan ribu jiwa warganya masih mengungsi di tanah lapang, dengan kondisi perut yang lapar. Beberapa lainnya berdiam di tenda terpal dengan luka sobek atau tulang yang patah akibat tertimpa runtuhan rumahnya.
Syuhelmaidi Syukur selaku Senior Vice President Aksi Cepat Tanggap (ACT) mengatakan, kondisi Lombok hampir sepekan pascagempa masih sangat kekurangan logistik.
“Sepanjang perjalanan Lombok Barat, Utara, sampai ke Timur, ratusan ribu pengungsi makan seadanya di dalam tenda pengungsian. Satu porsi makan di bawah tenda terpal itu sangat bergantung pada bantuan dari berbagai pihak,” papar Syuhelmaidi. Seperti dilansir dari laman ACT.
Ia juga menjelaskan tentang kondisi dusun atau desa terdampak gempa yang cakupannya sangat luas. Gempa, tidak hanya meruntuhkan rumah di pinggiran jalan, tapi juga membuat roboh dusun-dusun yang berada jauh di lereng Rinjani. “Dusun-dusun terpencil ini yang kondisinya sangat memprihatinkan,” kata Syuhelmaidi.
Bambang Triyono Direktur Global Humanity Response ACT mengatakan, paket logistik untuk korban gempa Lombok akan diturunkan di delapan posko kemanusiaan yang didirikan ACT di tiap kecamatan terdampak gempa.
“Truk logistik menurunkan ribuan paketnya di posko kemanusiaan ACT. Mulai dari posko Gunung Sari, Pemenang, Tanjung, Gangga, Kayangan, Bayan, Obel-Obel, dan Sembalun,” ujar Bambang.
Jumlah 5.000 paket logistik, menurut Syuhelmaidi, merupakan tahap pertama. Aksi darurat yang dikebut mengingat masih sangat minimnya ketersediaan logistik di tenda-tenda pengungsian.
“Target ACT membawa logistik ke wilayah yang belum terjangkau. Jumlah pengungsi yang rumahnya ambruk masih sangat banyak, Ini langkah awal mengajak banyak pihak terlibat. Kami sampaikan, sampai hari ini pengungsi masih sangat membutuhkan suplai logistik,” jelas Syuhelmaidi.
Tiap selang waktu tiga hari, total 5.000 paket berikutnya juga bakal dikirimkan lagi dari Posko Logistik ACT.
“Secara bertahap, 5.000 paket logistik akan kita kirimkan lagi dalam jarak waktu tiga hari. Isinya bervariasi, berupa beras, minyak goreng, gula, dan sejumlah jenis lainnya,” papar Bambang Triyono.
Sementara itu, di hari yang sama dengan distribusi logistik ke delapan posko kemanusiaan ACT, Humanity Food Truck ACT pun mulai menjalankan tugasnya.
Jumat petang (10/8) menjelang Maghrib, dapur berjalan terbesar se-Indonesia ini beroperasi di wilayah Gebang Barat, Kelurahan Pagesangan Timur, Kecamatan Mataram, Kota Mataram.
Dari dapur Humanity Food Truck, Jumat (10/8) sore,disiapkan tak kurang 500 paket makanan siap saji padat gizi. Makanan didistribusikan langsung untuk ratusan Kepala Keluarga yang rumahnya ambruk rata tanah di wilayah Gebang Barat.
“Humanity Food Truck ACT juga akan bergerak menyisir desa-desa terdampak gempa paling parah. Terutama di sekitar lereng sebelah Utara Rinjani, termasuk dalam Kabupaten Lombok Utara. Di titik itu, masih sangat banyak desa yang belum tercukupi kebutuhan logistiknya,” pungkas Bambang Triyono. [Al Hafidh/ACT]

























