Tripoli, Gontornews — Komisi pemilihan Libya pada hari Sabtu (11/12) menunda pengumuman daftar final kandidat untuk pemilihan presiden yang dijadwalkan dalam waktu kurang dari dua pekan.
Arabnews.com melansir, pemilihan presiden yang diprakarsai oleh PBB itu akan berlangsung pada 24 Desember, yang dimaksudkan untuk membantu negara Afrika Utara yang kaya minyak itu melewati satu dekade kekerasan.
Namun, proses tersebut terancam batal karena perbedaan pandangan di antara kelompok-kelompok yang bertikai soal aturan pemilihan, tanggal pelaksanaan, dan siapa yang boleh mencalonkan. Sejumlah tokoh kontroversial telah melangkah maju dalam proses pemilihan itu.
Pengumuman daftar calon final seharusnya menandai dimulainya kampanye pemilihan secara resmi, tetapi komisi pemilihan tidak memberikan tanggal baru untuk mengumumkan daftar tersebut.
Aturan yang mengatur pemungutan suara – yang akan menjadi pertama kalinya seorang kepala negara Libya dipilih secara langsung – menyebutkan komisi harus menerbitkan daftar kandidat dua pekan setelah putusan akhir pengadilan dan banding terkait dengan pencalonan.
Pada 2 Desember, pengadilan Libya mengembalikan Seif Al-Islam Qaddafi, putra Presiden Muammar Qaddafi yang terbunuh, sebagai kandidat.
Sehari sebelumnya, pengadilan banding di Tripoli menolak petisi yang menentang pencalonan Perdana Menteri sementara Abdulhamid Dbeibah.
Libya jatuh ke dalam kekacauan setelah pemberontakan tahun 2011 yang didukung NATO menggulingkan dan membunuh Muammar Qaddafi. Setahun relatif damai setelah gencatan senjata Oktober 2020 antara kubu timur dan barat yang bertikai, tetapi para analis telah memperingatkan bahwa kekerasan dapat dengan mudah berkobar lagi menjelang pemilihan.
Sebuah pernyataan di situs web komisi pemilihan mengatakan pihaknya masih harus mengadopsi serangkaian tindakan hukum “sebelum melanjutkan ke publikasi daftar definitif kandidat dan dimulainya kampanye pemilihan mereka.”[]
























