Jakarta, Gontornews — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nabiel Makarim mengatakan untuk mencegah perilaku berisiko terhadap remaja harus dilakukan dengan pendidikan berkelanjutan. Hal itu disampaikan Medikbud yang diwakili Dirjen PAUD dan Dikmas Kemdikbud Harris Iskandar dalam Seminar Internasional Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Keluarga di Jakarta, Selasa (5/11).
“Pembangunan pendidikan berkelanjutan bertujuan untuk memastikan pendidikan yang berkualitas, inklusif dan adil serta mempromosikan kesempatan belajar seumur hidup untuk semua,” katanya.
Menurut data yang dihimpun, Mendikbud mengatakan data perilaku berisiko para remaja di Indonesia masih sangat tinggi. Perilaku tersebut antara lain kebiasaan merokok, tindak kekerasan atau perundungan, pornografi, narkoba, dan radikalisme.
Sedangkan, data Global School Health Survey (GSHS) Kementerian Kesehatan pada 2017, bahwa siswa SMP dan SMA/K laki-laki yang merokok, tercatat sebanyak 22 persen, pernah mengonsumsi minuman beralkohol sebanyak 7,3 persen, pernah mengonsumsi narkoba 2,6 persen dan pernah menjadi korban perundungan 24 persen.
“Data Kemendikbud pada 2018, dari sekitar 98 persen dari total siswa SMP dan SMA/K, 6,3 persen di antaranya terkena adiksi pornografi ringan dan 0,07 persen terkena adiksi cukup berat,” lanjutnya.
Sementara itu, data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2019 ini, penetrasi pengguna internet di Indonesia mencapai 171 juta orang atau sekitar 65 persen dari populasi dengan 19,6 persen di antaranya mengakses internet lebih dari delapan jam per hari.
Hal itulah yang harus menjadi perhatian khusus khususnya oleh keluarga maupun sekolah. Keluarga sebagai lingkungan terdekat perlu memastikan bahwa anak-anak mereka harus terbebas dari masalah-masalah tersebut.
Tujuan berkelanjutan lanjutnya bertujuan untuk memastikan pendidikan yang berkualitas, inklusif dan adil. Sehingga secara khusus mencakup akses dan layanan yang sama bagi semua anak laki-laki dan perempuan guna memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas sebagai indikator keberhasilan.
“Ini menandakan ortodoksi global yang memandang pendidikan anak usia dini dan pendidikan keluarga sebagai elemen penting yang memastikan perkembangan suatu bangsa,” ungkapnya. [Devi Lusianawati]























