Yogyakarta, Gontornews — Sebagian pengamat masyarakat Muslim di Nusantara meramalkan bahwa tarekat akan sedikit demi sedikit berkurang peminatnya dalam masyarakat modern. Namun, ternyata masih banyak tarekat yang tetap eksis di era modern ini. Bahkan senantiasa beradaptasi dengan kemodernan, seperti yang dilakukan oleh Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN) di Yogyakarta.
Modernitas adalah anak kandung dari proses rasionalisasi. “Sebagai anak kandung proses rasionalisasi maka modernitas pun membawa keseharian praksis manusia modern menjadi absen terhadap dunia suprametafisik,” jelas Dr Robby Abror. Tidak heran jika banyak pemikir yang beranggapan bahwa modernitas secara perlahan akan menyingkirkan dimensi religius dalam keseharian manusia.
Di tengah masyarakat modern, ikhwan tarekat ini masih terus eksis dan cukup banyak menarik peminat. Realitas eksistensi TQN tersebut tentu menarik untuk dikaji lebih lanjut. Dalam penelitiannya, Dr Robby pun lantas menyimpulkan bahwa TQN Yogyakarta adalah tarekat yang hidup dalam historisitas kemanusiaan.
Bagi para ikhwan TQN relasi tarekat dan kemodernan bukanlah bersifat antagonis, melainkan simbiosis. Sehingga tercipta suatu corak keagamaan baru, yaitu tarekat modern dengan kegiatan-kegiatan yang sarat nuansa kemodernan dan kemajuan.
Kemudian untuk melihat tinjauan historis atas ikhwan TQN Yogyakarta, tentu harus dimulai dengan menelisik keterkaitannya dengan TQN Pondok Pesantren Suryalaya.
Hal ini dikarenakan ikhwan TQN Yogyakarta adalah salah satu cabang dari TQN PP Suryalaya. “Sebagaimana telah jamak dipahami, TQN PP Suryalaya adalah salah satu aliran tarekat terbesar di Indonesia,” tambah Wakil Dekan II Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta itu.
Untuk memberdayakan ikhwan TQN yang sudah banyak tersebar di mana-mana, maka PP Suryalaya kemudian membentuk badan-badan pembantu, seperti Yayasan Serba Bakti (YSB), Keluarga, dan Wakil Talqin.
Yayasan Serba Bakti adalah semacam lembaga fasilitator. Ia memfasilitasi berbagai macam kegiatan atau amaliyah ikhwan TQN di berbagai wilayah. Pola organisasinya berjenjang, yaitu dari Yayasan Serba Bakti pusat, wilayah (tingkat provinsi), kabupaten, kecamatan hingga desa. Sementara untuk keluarga, biasanya adalah keturunan dari Mursyid TQN, yaitu KH A Shohibulwafa Tajul Arifin atau Abah Anom.
Selain itu, pembantu lain yang juga mengawal perkembangan ikhwan TQN di berbagai wilayah adalah Wakil Talqin. Para Wakil Talqin ini merupakan mubaligh TQN yang langsung ditunjuk oleh mursyid. Seperti Ustadz KH Wahfiudin Sakam, Wakil Talqin TQN Nasional yang bersahabat akrab dengan Dr Robby ini pernah mengadakan acara seminar bersama di UIN Sunan Kalijaga.
Para Wakil Talqin berwenang untuk menalqin orang yang akan bergabung dengan ikhwan TQN di mana saja, tidak terikat wilayah. Untuk wilayah Yogyakarta, Kiai Thaha Abdurrahman sebagai Wakil Talqin.
TQN PP Suryalaya dikembangkan pertama kali di Yogyakarta oleh Bapak Ace Partadireja. Sekitar tahun 1980-an, mantan Rektor UII tersebut membawa ajaran TQN ke Yogyakarta.
“Di tengah kota Yogyakarta yang sarat manusia modern, faktanya TQN tetap hidup bahkan banyak pengikutnya,” ulas Ketua Asosiasi Aqidah dan Filsafat Islam (AAFI) itu.
Lebih jauh dari itu, Dr Robby menambahkan bahwa TQN Korwil Yogyakarta bahkan juga memperluas cakupan anggotanya menjadi tidak hanya kalangan masyarakat tradisional, melainkan juga meliputi kalangan masyarakat modern. Anggotanya mulai yang berpendidikan rendah hingga tinggi, masyarakat biasa hingga para pejabat, dan sebagainya.
Sejauh diamati, tidak ada perbedaan antara sikap ikhwan TQN Yogyakarta terhadap tasawuf dan kemodernan dengan pandangan para anggotanya.
Wakil Ketua Asosiasi Penyelenggara Pendidikan Filsafat Indonesia (APPFI) ini mengkaji tarekat dan kemodernan dengan fokus pada ikhwan TQN di Yogyakarta menyingkapkan pesan penting sebagai berikut:
Pertama, TQN di Yogyakarta adalah tarekat yang hidup dalam historisitas kemanusiaan dan dalam realitas kemodernan yang tidak terelakkan di tengah masyarakat.
TQN Yogyakarta tidak lantas memilih jalan menjauhkan diri dari kemodernan, melainkan justru menjadikannya sebagai salah satu ikhtiar untuk terus mengembangkan diri.
Tarekat ini menciptakan program khusus untuk menyesuaikan diri dengan komodernan, yaitu dengan program kursus tasawuf. Kolaborasi antara tarekat dan kemodernan yang terjadi dalam tarekat ini bukanlah bersifat antagonis, melainkan simbiosis.
“Dengan demikian, tidak heran jika, meskipun TQN hidup di lingkungan masyarakat modern Yogyakarta, ia masih tetap bisa eksis,” tambah Robby, aktivis KAHMI (Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam) DIY.
Kedua, dalam memahami hubungan antara tasawuf dan kemodernan yang memiliki paradigma utama rasionalitas, para anggota ikhwan TQN Yogyakarta umumnya berpendapat bahwa tidak ada pertentangan antara kedua hal tersebut.
Menurut anggota ikhwan tarekat ini, tasawuf sejatinya juga sangat menghargai keilmuan, dalam hal ini keilmuan rasional seseorang. Semakin tinggi keilmuan seseorang, maka akan semakin tinggi derajatnya di mata Allah SWT.
Selain itu, menurut anggota ikhwan TQN Yogyakarta, amaliyah tarekat itu bukanlah sesuatu yang membuat pengamalnya harus menjauh dari kegiatan-kegiatan dunia.
“Hal ini karena, amaliyah tarekat sejatinya sangat sederhana dan dapat dilakukan secara istiqamah tanpa harus mengganggu aktivitas-aktivitas duniawi atau kemodernan,” jelas suami Hj Nanum Sofia SPsi SAnt MA, dosen Psikologi Klinis Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.
Dr Robby juga ikut berkontribusi dalam penulisan buku bersama. Bersama Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah lahir buku Fikih Informasi (2019). Bersama Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah menerbitkan beberapa karya: Filsafat Pendidikan Islam (2019), Filsafat Pendidikan Muhammadiyah (2019), Etnografi Cepat (2018), dan Adab Mahasiswa di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (2020). Puisi-puisi dan cerpennya dapat dinikmati di mediamu.id juga telah banyak dibacakan oleh rekan-rekannya di ADITV—juga dapat diakses di youtube dan instagramnya: robbyhabror.
Ia menaruh perhatian pada bidang filsafat, tasawuf dan teologi. Pada 2014, memfokuskan risetnya tentang Salafi. Pada 2018 berangkat haji bersama isteri dalam rombongan Salafi di Yogyakarta. Pada 2015 dan 2018, ia meneliti Filsafat Islam dan Syi’ah di Qum, Isfahan, Mashad dan Teheran di Iran. Pada 2019, ia melakukan riset tasawuf dan kemodernan di Casablanca, Rabat, Fez dan Marrakesh di Maroko. Ziarah ke makam Syeikh Tijani di Fez—darinya lahir dan menyebar Tarekat Tijaniyah di seluruh dunia Islam. Lalu ke makam Syeikh Jazuli di Marrakesh—kitabnya Dalail al-Khairat berisi wirid harian dibaca banyak orang hingga hari ini.
Sikap dan visinya yang moderat dan toleran serta tetap berkomitmen teguh pada tauhid, membuatnya menjadi sosok yang mencintai ilmu, mudah bergaul dan banyak teman dari berbagai kalangan, agama, aliran politik dan ideologi.
“Rahasia dari semua ini adalah spiritualitas dan seni. Allah SWT itu indah. Tugas kita menciptakan keindahan dalam hidup kita agar senantiasa dicintai-Nya,” pungkasnya. [Edithya Miranti]

























