New Delhi, Gontornews — Ribuan orang melakukan demonstrasi di India menentang gelombang serangan terhadap umat Islam oleh massa yang menuduh mereka membunuh sapi atau makan daging sapi.
Sembari membentangkan spanduk bertuliskan “Not in My Name” dan poster “Stop Cow Terrorism” pada hari Rabu (28/6), para pemrotes menerjang guyuran hujan setidaknya di 10 kota termasuk Mumbai, Kolkata dan New Delhi. Para pemrotes antara lain terdiri dari kaum intelektual dan aktivis yang bergabung dengan keluarga korban.
Di India, banyak orang Hindu menyembah sapi yang dianggap sebagai binatang suci dalam agama mereka.
Para kritikus menuduh kelompok sayap kanan Hindu, yang terkait dengan Partai Bharatiya Janata (BJP) pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi, tidak mengambil tindakan yang diperlukan untuk menghentikan kekerasan terhadap umat Islam dan Hindu berkasta rendah yang makan daging sapi atau bekerja di industri daging dan kulit.
Namun Modi membantah tuduhan tersebut dan secara terbuka mengkritik apa yang disebut sebagai ‘warga sapi’.
Jumat lalu, sekitar 20 pria menyerang empat orang Muslim di sebuah kereta di pinggiran New Delhi. Mereka menusuk remaja secara fatal dan melukai dua orang lainnya.
“Saya merasa takut, saya bahkan tidak tahu apakah saya bisa sampai di rumah dengan selamat,” ujar Bashruddin Khandawali (24), sepupu Junaid Khan yang terbunuh di kereta, kepada kantor berita Reuters.
Di Mumbai, para pemrotes menahan diri untuk tidak meneriakkan slogan-slogan namun tetap memasang spanduk bertuliskan “stand up to Hindu terrorism” and “say no to Brahminism”.
“Saya orang Hindu, saya menganggap sapi itu sebagai ibu saya, tapi membunuh orang tidak dibenarkan,” tandas Narendra Bhandari (20), seorang pengusaha, kepada Scroll.in.
Di Kolkata, komposer musik dan penyanyi, Anjan Dutta mengatakan, “tren peningkatan Hindutva sangat berbahaya”.
“Saya takut dengan situasi di negara saya sekarang. Kita perlu berbicara melawan monstrositas ini. India adalah tempat untuk semua orang,” kata Dutta.
Protes tersebut menyusul tewasnya pemuda 16 tahun akibat tikaman karena dituduh memiliki daging sapi saat berada di dalam kereta api. [Rusdiono Mukri]























