Jakarta, Gontornews — Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang Fatwa, Prof Dr KH Asrorun Niam Sholeh, mengingatkan anak-anak supaya tidak berbuat durhaka kepada orang tua. Pernyataan ini ia sampaikan saat mengkaji Kitab Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi Al-Bantani di Pondok Pesantren An-Nahdlah Depok, Sabtu (17/10/2026).
Pengajian yang berlangsung secara hibrida itu juga diikuti ribuan jamaah dari luar pesantren melalui aplikasi Zoom. Di hadapan peserta, Prof Niam menegaskan bahwa perbuatan durhaka kepada orang tua masuk kategori dosa besar dan membawa akibat yang sangat serius.
Guru Besar UIN Jakarta itu berpendapat, hukuman bagi anak yang durhaka kepada orang tua biasanya ditegakkan langsung Allah SWT di dunia. ‘Ketentuan’ ini bahkan berbeda dengan maksiat lain, yang balasannya terkadang menunggu hari kiamat.
“Durhaka kepada orang tua ini bagian dari dosa besar yang azabnya dipercepat dan disegerakan, enggak nunggu nanti di akhirat, enggak nunggu nanti di alam kubur, tapi pada saat di dunia,” kata Prof Niam sebagaimana dilansir MUI Digital.
Prof Niam menambahkan, dampak sikap durhaka terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Anak yang sering menentang atau menyakiti perasaan orang tua biasanya menghadapi banyak kesulitan dan ketidaknyamanan. Ia mengibaratkan orang tua sebagai ‘jimat kehidupan’, yang harus dijaga, dihormati, dan ditaati selama nasihatnya tidak bertentangan dengan ajaran agama.
Prof Niam sempat menceritakan kepergian ibunya, Hj Hamdiyah binti KH Mahfudh, pada hari Sabtu (17/10/2026) sekitar pukul 15.30 WIB. Ia mengatakan bahwa kehilangan orang tua merupakan momen penting bagi anak untuk menghargai keberadaan orang tua.
Karenanya ia pun berharap kepada anak-anak yang sudah kehilangan orang tua agar senantiasa terus mendoakan dan meminta ampunan. Bagi yang masih memiliki orang tua, Prof Niam mendorong agar memanfaatkan waktu untuk meraih keridhaan Allah. “Keridhaan Allah sangat bergantung pada keridhaan orang tua,” tegas Prof Niam.
Ia melanjutkan, anak sering merasa dewasa dan menganggap nasihat orang tua sebagai penghalang. Padahal mereka tidak menyadari bahwa di balik nasihat itu ada niat baik yang tulus demi kebaikan semua.
Terakhir, Prof Niam menegaskan pentingnya meluangkan waktu untuk berbakti, meningkatkan komunikasi, dan meminta doa restu dari orang tua dan orang-orang shalih agar belajar dan kehidupan menjadi lebih lancar. Harapannya, pesan ini menjadi pengingat bagi keluarga di Indonesia untuk mempererat ikatan antara anak dan orang tua di rumah masing-masing. [Rayhana Camila/Mohamad Deny Irawan]

























