Boston, Gontornews — Tren serta beragam macam metode diet meningkat di kalangan masyarakat dalam rentang satu dekade terakhir. Umumnya, para pelaku diet melakukan 2 model utama yaitu mengonsumsi makanan rendah lemak dan tinggi karbohidrat atau mengonsumsi makanan tinggi lemak tanpa karbohidrat. Mana yang lebih baik antara dua metode diet yang sedang tren tersebut?
Sebuah penelitian gabungan yang dilakukan oleh 4 peneliti yaitu David S Ludwig (Boston Children’s Hospital, Boston), Walter C Willet (Harvard Medical School, Boston & Harvard T H Chan School of Public Health), Jeff S Volek (Departmen of Uman Sciences, The Ohio State University, Columbus) dan Marian L Neuhouser (Fred Hutchinson Cancer Research Center, Seattle) menemukan bahwa tidak ada yang lebih baik antara kedua metode diet tersebut karena kebutuhan karbohidrat ataupun lemak seseorang berbeda satu sama lain.
Tapi di sisi lain, para peneliti menawarkan bentuk diet berkualitas dalam bentuk mengurangi makanan rendah gula dan mengolah makanan yang bersumber dari biji-bijian. Diet semacam itu disebut para peneliti mampu mempertahankan berat badan sehat serta mengurangi risiko penyakit kronis akibat kelebihan berat badan.
Secara teknis, mereka menyarankan untuk mengganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh serta mengganti karbohidrat olahan dengan mengonsumsi biji-bijian dan sayuran nonstrat sebagai
“Ini adalah model yang tepat untuk mengatasi perang diet,” kata David Luwig sebagaimana dilansir Science Daily.
“Tujuan kami adalah untuk mengumpulkan tim yang berasal dari bidang keahilan yang berbeda guna mengetahui persoalan ini dari berbagai sudut padang,” tambah Luwig.
Lebih lanjut, mereka juga menjelaskan bahwa tinggi-rendah konsumsi karbohidrat dan lemak juga memiliki manfaat sekaligus kerugian. Misalnya, jika anda mengonsumsi karbohidrat secara berlebihan maka tubuh anda tidak dapat mengelola metabolisme. Sedangkan jika anda mengonsumsi lemak secara berlebihan maka itu dapat berakibat pada obesitas, diabetes, penyakit jantung dan kanker.
Sebaiknya, mengonsumsi makan rendah lemak dan karbohidrat disebut sebagai diet yang otpimal. Pada penelitian berjudul “Dietary Fat: From Foe to Friend?” itu para peneliti juga bersepakat bahwa diet berkualitas lebih menyehatkan ketimbang melakukan diet karbohidrat (ketofastosis) ataupun diet lemak. [Mohamad Deny Irawan]

























