Baghdad, Gontornews — Presiden Irak, Barham Salih, dikabarkan siap untuk mengunduran diri di depan parlemen, Kamis (26/12). Pengunduran diri Barham Salih tidak lepas dari demonstrasi yang terjadi selama berbulan-bulan di Irak.
“Salih akan mengundurkan diri jika terjadi tekanan lebih lanjut,” ungkap sebuah sumber di parlemen Irak yang enggan disebutkan namanya.
Sumber tersebut juga mengatakan bahwa pengunduran diri Barham Salih terjadi karena ia tidak mampu mengendalikan kebuntuan politik yang terjadi serta ketidakberhasilannya dalam menunjuk Perdana Menteri Irak yang baru pasca Adel Abdul-Mahdi mengundurkan diri.
“Presdien mengatakan bahwa ia lebih memilih untuk mengundurkan diri daripada menunjuk seorang kandidat yang ditolak oleh para demonstran,” ujar sumber dekat parlemen Irak sebagaimana dilansir Anadolu.
Sebagaimana diketahui, parlemen Irak menolak permintaan Salih yang menunjukn Assad Al-Eidani sebagai Perdana Menteri yang baru. Parlemen Irak pun mengumumkan penundaan sidang hingga waktu yang tidak ditentukan.
Sejumlah kelompok aktifis mengatakan bahwa penolakan Al-Eidani tidak lepas dari perannya yang dinilai bertanggungjawab atas pembunuhan demonstran di Basra. Kala itu, El-Eidani menjabat sebagai Gubernur Basra.
Selain El-Eidani, mantan Menteri Pendidikan Irak, Qusay al-Suhail juga menolak untuk dijadikan sebagai kandidat Perdana Menteri Irak yang baru.
Hingga saat ini, Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia Irak melansir bahwa demonstrasi berdarah di Irak telah menyebabkan setidaknya 496 korban tewas dan 17.000 lainnya terluka. [Mohamad Deny Irawan]























