Bulan Suci Ramadhan 1445 H tahun 2024 akan segera tiba. Tak lama lagi umat Muslim di seluruh dunia akan menjalankan kewajiban puasa selama Bulan Suci Ramadhan. Sebagai Muslim, sudah seharusnya kita berbahagia akan kedatangan bulan tersebut, karena Allah SWT telah memberkahi Ramadhan dengan banyak kemuliaan dan ampunan.
Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbanyak di dunia, Indonesia memiliki keunikan tersendiri dalam mengekspresikan kebahagiaannya dalam menyambut kedatangan Bulan Suci Ramadhan.
Seperti diketahui, Indonesia memiliki berbagai suku yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Masing-masing mempunyai kebudayaan unik. Meleburnya budaya dan ajaran agama Islam ini membuat setiap daerah memiliki tradisi tersendiri dalam menyambut datangnya Ramadhan. Ambil contoh tradisi Meugang di Aceh. Dilansir maa.acehprov.go.id, Makmeugang atau Meugang merupakan tradisi yang sudah ada sejak masa kerajaan Aceh Sultan Iskandar Muda (1607—1636 Masehi). Hingga kini tradisi tersebut masih menjadi budaya yang tetap dilaksanakan masyarakat Aceh.
Dalam warisanbudaya.kemdikbud.go.id juga disebutkan, tradisi Meugang ini telah mengakar di kalangan masyarakat Aceh dan dilaksanakan di semua wilayah tersebut, khususnya umat Islam. Tradisi ini berupa pemotongan hewan. Selain kambing dan sapi, masyarakat Aceh juga menyembelih ayam dan bebek. Daging tersebut dimasak dan disajikan di masjid untuk makan bersama tetangga dan warga yang lain. Tradisi Meugang di desa biasanya berlangsung satu hari sebelum bulan Ramadhan atau hari raya, sedangkan di kota berlangsung dua hari sebelum Ramadhan atau hari raya.
Tradisi yang sama juga ada di Jambi yang disebut tradisi bebantai. Lulusan Universitas Negeri Yogyakarta Muhammad Dwi Kurniadi dan Husmayani Muny Putri (2021) dalam artikelnya yang dipublikasikan di Jurnal Lektur Keagamaan menjelaskan, tradisi bantai adat atau bebantai atau memantai ini berlangsung di Kabupaten Merangin Provinsi Jambi. Masyarakat Merangin mayoritas beragama Islam. Saat bulan Ramadhan datang, mereka menyambutnya dengan berbagai kegiatan seperti membersihkan sarana umum, pengajian, dan tradisi yang unik, yaitu bebantai, memantai, atau lebih dikenal dengan bantai adat.
Bantai adat dimaknai sebagai kegiatan memotong hewan seperti sapi dan kerbau dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadhan. Kegiatannya dilaksanakan selama tiga hingga lima hari sebelum masuk bulan Ramadhan. Tujuannya untuk melestarikan tradisi dan memenuhi kebutuhan daging masyarakat. Lembaga adat mengharapkan masyarakat bergembira menyambut bulan Ramadhan dengan ibadah pemotongan massal sapi dan kerbau.
Dalam menyambut bulan Ramadhan, masyarakat Muslim di Pulau Jawa juga memiliki tradisi yang saat ini masih dilestarikan. Antara lain Punggahan atau Munggahan. Keduanya merupakan tradisi yang sama. Bedanya Munggahan lebih populer di kalangan masyarakat Sunda. Yunika Sari (2023) dalam artikelnya yang diterbitkan di Journal of Contemporary Rituals and Traditions menjelaskan, tradisi menyambut bulan suci Ramadhan ini memiliki berbagai keunikan dalam pelaksanaannya di setiap daerah.
Baik di desa maupun di kota, tradisi Munggahan masih dipertahankan. Khususnya, di Tatar Sunda, Jawa Barat, momen ini tidak pernah dilewatkan. Dalam pelaksanaannya tradisi Munggahan sangat beragam, seperti berkumpul dengan keluarga dan kerabat, botram atau makan-makan, saling memaafkan, berdoa, berziarah, dan tasyakuran. “Tradisi Munggahan membawa banyak kearifan dan manfaat, yang mewujudkan nilai-nilai keislaman seperti keimanan, amalan, ibadah, kearifan lokal, dan persaudaraan Islam,” tulis Yunika Sari.
Sedangkan Punggahan merupakan sebutan untuk tradisi di Pulau Jawa secara keseluruhan. Devi Sri Yuliyani (2022) dalam artikelnya yang dipublikasikan di Jurnal Sosial Budaya menjelaskan, Punggahan berasal dari kata munggah yang dalam bahasa Jawa artinya naik. Sesuai kata munggah tersirat makna perubahan ke arah yang lebih baik dari bulan Sya’ban menuju Bulan Suci Ramadhan dan untuk peningkatan iman selama melakukan ibadah puasa Ramadhan. Tradisi ini bertujuan untuk mengingatkan Ramadhan akan segera tiba, dan juga untuk mengirim doa bagi orang-orang yang telah wafat. Punggahan biasanya dilakukan di rumah, masjid ataupun mushala dengan mengundang sanak saudara, tetangga sekitar dan seorang kiai untuk memimpin tahlil dan doa.
Dalam menyambut Bulan Suci Ramadhan, masyarakat di beberapa wilayah di Indonesia juga melakukan tradisi mandi secara khusus yang ditujukan untuk bersuci karena akan menjalankan ibadah puasa. Tradisi tersebut di Sumatera Utara dikenal dengan istilah Marpangir, di Lampung dikenal dengan istilah Belangiran, sedangkan di wilayah Jawa Tengah disebut Padusan. Selain itu masih banyak tradisi lainnya di Jawa mulai dari tradisi Dugderan di Semarang hingga Tabuh Bedug di Masjid Kudus.
Dilansir warisanbudaya.kemdikbud.go.id, Dugderan pertama kali dilaksanakan di Masjid Kauman, Bupati Semarang selaku umara datang ke Masjid Besar Kauman bersama-sama ulama menyampaikan hasil keputusan tentang awal puasa. Prosesi tradisi Dugderan terdiri dari tiga agenda yakni pasar (malam) Dugderan, prosesi ritual pengumuman awal puasa dan kirab budaya Warak Ngendok. Tradisi ini hingga sekarang masih terus dilestarikan dan dilakukan dengan segala dinamika dan perkembangannya. Pasar Dugderan dilakukan selama satu pekan penuh, mulai siang sampai malam dan dipusatkan di Pasar Johar atau sekitar Masjid Besar Kauman.
Tradisi khas menyambut Ramadhan juga ada di Sulawesi Selatan. Salah satunya Suru Maca atau Suro’ Maca. Tradisi ini masih banyak dilakukan oleh warga keturunan Bugis Makassar khususnya di wilayah pedesaan. Suru Maca atau Suro’ Maca dapat diartikan “meminta” (Suru/Suro’) untuk mendoakan (Maca). Ritual ini dilakukan menjelang bulan Ramadhan, biasanya selama sepekan sebelum bulan Ramadhan. Konon, ritual ini sudah dilakukan oleh nenek moyang suku Bugis Makassar dan sampai saat ini masih terjaga. Selain mengirimkan doa, tradisi Suru Maca ini pun menjadi sebuah penghormatan kepada leluhur yang telah tiada dan sebagai cara untuk membersihkan jiwa dan ruhani sebelum melaksanakan ibadah puasa.
Berbagai tradisi tersebut merupakan refleksi keagamaan masyarakat setempat. Refleksi tersebut merupakan bentuk kecintaan mereka kepada tradisi keislaman berupa penghormatan kepada bulan Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda:
قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌمُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فَيْهِ أبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فَيْهِ أبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلًّ فَيْهَ الشَّيَاطَيْنُ فَيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ ألْفِ شَهْرٍ
Artinya: Telah datang bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, maka Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu. Saat itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat dan pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan (HR Ahmad).
Melalui berbagai tradisi di atas, para leluhur bangsa ini memberikan pesan kepada seluruh warga di berbagai zaman untuk memuliakan Bulan Suci Ramadhan. Jika pada bulan lain banyak orang mengerjakan maksiat, maka pada Ramadhan, mereka harus meninggalkan maksiat tersebut, membiasakan diri dengan beribadah sebanyak mungkin.
Kemudian mengingat pesan Nabi Muhammad tentang betapa strategisnya bulan Ramadhan untuk membangun kualitas diri dan budaya keislaman yang berkualitas. Baik individu maupun kelompok, harus sama-sama memperbanyak ibadah dan kebaikan. Dengan begitu, kualitas kehidupan menjadi lebih baik. []
























