Jenewa, Gontornews — Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan bahwa 12 juta orang warga sipil Suriah membutuhkan bantuan medis. Angka ini diprediksi terus bertambah seiring masuknya hampir 130 ribu warga sipil Suriah yang mengungsi dari Provinsi Idlib.
Direktur WHO untuk urusan darurat regional di Mediterania Timur, Richard Brennan, mengatakan bahwa ketegangan yang terjadi tanpa henti di Suriah telah menyebabkan jatuhnya korban sipil.
“Ketegangan militer di wilayah Suriah telah menyebabkan korban sipil, cedera dan menambah penderitaan manusia,” kata Brennan sebagaimana dilansir Anadolu.
Lebih lanjut, WHO mengatakan bahwa saat ini ada 14 apotek dan dua rumah sakit yang tutup di Suriah. Sedangkan 42 fasilitas kesehatan lainnya berisiko tutup andai serangan di Suriah tidak kunjung berhenti.
Sebuah sumber yang tak ingin disebutkan namanya mengatakan bahwa saat rezim pemerintah Suriah dan Rusia mengintensifkan serangan, ada lebih dari 2.000 warga sipil yang melarikan diri dari Idlib dalam 24 jam terakhir.
Padahal, pada September 2018, Turki dan Rusia bersepakat untuk menjadikan wilayah Idlib sebagai zona de-eskalasi di mana segala bentuk tindakan agresi akan secara tegas dilarang. Namun, pelanggaran atas gencatan senjata di Idlib telah menyebabkan lebih dari 1.300 warga sipil Suriah tewas oleh pemerintah yang berkoalisi dengan Rusia.
Sejak meletus perang saudara di Suriah, lebih dari satu juta warga Suriah mengungsi ke dekat perbatasan Turki. Turki pun menjadi ‘surga’ bagi sekitar 3,7 juta pengungsi Suriah yang melarikan diri dari negara mereka. Ankara bahkan telah menghabiskan 40 miliar dolar AS untuk menangani pengungsi Suriah selama berada di Turki. [Mohamad Deny Irawan]























