Dalam kajian Tugas Akhir (TA) Program Kaderisasi Ulama (PKU) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, seorang pesertanya alumnus sarjana psikologi mempresentasikan makalahnya tentang “Dualisme Tubuh Manusia dalam Dunia Kedokteran Barat”. Adapun diantara esensi temuannya adalah bahwa semakin canggih sains dan tekhnologi dunia kesehatan modern, semakin lengkap obat-obatan, semakin beragam dan kompleks pula penyakit dimasyarakat. hingga hal ini berdampak pula pada semakin pendeknya umur umat manusia modern.
Kontruksi ilmu kedoteran barat tidak lahir secara instan. dari fenomena yang nampak itu telah tertanam kokoh pondasi worldview barat yang memahami dan memperlakukan alam semesta termasuk manusia hanya sebagai objek materialis semata. Hal ini diafirmasi oleh seorang fisikawan Golshani. beliau menegaskan bahwa dalam dua abad terakhir, sains didominasi oleh pandangan dunia sekuler, yang melihat alam secara mekanistik dan materialistik (Golshani, Issues in Islam and Science:2004). Walaupun ada banyak pandangan dunia, tapi pandangan dunia sekuler, mekanistik dan materialistik yang mendominasi sehingga menjadi paradigma sains modern.
Syed Naquib Al-Attas dalam hal ini nampaknya sepemahaman dengan Golshani, beliau juga mengatakan bahwa memang sains menangani hal-hal terkait dengan dunia inderawi yang bertumpu pada perkara-perkara zahir saja, namun sains barat memiliki keterbatasan untuk bisa berbicara tentang segala aspek. terutama yang berterkaitan dengan wilayah metafisik, misalnya pada pertanyaan untuk apa kita ada dan apa makna hidup manusia serta mengapa harus ada alam semesta dan apa hakikat dasarnya. Juga pertanyaan tentang darimana tabiat hukum alam yang teratur dan mutlak dengan segala keistimewaanya itu berasal yang kemudian mereka namakan kosmos (al-Attas,RUKM:2001,h.22). Para saintis barat tidak mempu menjawab pertanyaan dasar tersebut secara komprehensif, mereka hanya bisa menerima hakikat itu sebagai nasib yang mutlak tak terelakkan tragic.
Beliau juga menyatakan bahwa kebudayaan barat adalah kebudayaan sekuler, dalam pengertian tidak memberi ruang bagi Tuhan dalam kehidupan termasuk dalam dunia sains. Barat memandang alam sebagai sesuatu yang independen, kekal dan bekerja menurut sistemnya sendiri, Tuhan tidak mendapat tempat dalam mekanisme kerja alam semesta. Sains yang menggeluti alam hanya bekerja dengan memahami sebab akibat yang terjadi dalam alam sebagai sesuatu yang alamiah.
Objek Sains Barat
Aristoteles membagi objek menjadi 4 yaitu : 1). objek formal (bentuk), 2). Material (dikenali), 3). final (tujuan) dan 4). efesien (pembuat). objek 1 dan 2 ada pada bendanya, sedangkan 3 dan 4 tidak atau diluar dirinya. Namun setelah periode renaisaince para saintis modern menghapus objek 3 dan 4, karena mengandung indoktrinisasi yang dapat mengekang eksperimen. Karna bagi sains modern, sains untuk sains, sekalipun melampaui batas-batas moralitas (Ust.Yongki.S).
Salahsatu arsitektur konstruksi sains modern itu adalah Auguste Comte. Ia menegaskan sekularisme dan materialisme sebagai dasar yang memiliki pondasi utama antara lain, objektif bahwa teori tentang semesta harus bebas nilai, hanya berbicara tentang semesta yang teramati, yang dikenal dengan fenomenalisme, semesta direduksi menjadi fakta-fakta yang dapat diamati yang disebut reduksionisme, semesta sebagai objek-objek yang bergerak mekanis, yang diistilahkan dengan naturalisme (Doni G Adian, Menyoal Objektivisme Ilmu Pengetahuan Dari David Hume Sampai Thomas Kuhn : 2002).
Sains barat tidak perlu kepada Tuhan, sama sekali tak menggubris wacana teologis dalam sistem kerja alam. Alam hanya dipahami sebagai realitas fisik yang bekerja secara alamiah tanpa pengatur, terjadi secara kebetulan dengan sendirinya dan tanpa tujuan akhir. Hal ini menguatkan pandangan dualisme yakni pemisahan antara fakta dan nilai sebagai sesuatu yang objektif dan subjektif. Karena itu, dalam dunia sains muncul relativisme moral dengan melihat moralitas sebagai subjektifitas.
Pandangan yang mengesampingkan metafisik ini mengindikasikan ketidak netralan sains barat. Hal ini bukan sekedar masalah ketidaknetralannya yang tidak sejalan dengan ajaran Islam. Tapi karena pandangan metafisik itu memengaruhi penerapan sains, sehingga menimbulkan dampak destruktif bagi umat manusia secara keseluruhan. Paling tidak ada empat dampak desktruktif sains modern bagi manusia, pertama, eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam. Kedua, kesenjangan yang tajam antara kaya dan miskin. Ketiga, polusi lingkungan. Keempat, gangguan terhadap dimensi spiritual.
Sardar dan Nasr juga turut serta mengkritik sains modern, kritikan mereka tidak semata didasarkan pada alasan teologis, tapi juga pada alasan krisis dalam kehidupan sosial dan ekologi (H.Sardar dan Z.Nasr:1986). Mereka juga mengaitkan dengan persoalan pada wilayah etika yang tidak lagi dipertimbangkan dalam dunia sains modern, sementara hal itu terjadi karena pandangan metafisik yang materialistik dan mekanistik yang menegaskan pemisahan fakta dan nilai serta menganggap yang kedua tidak ilmiah sehingga tidak bisa masuk dalam wilayah sains. Alhasil tidaklah ilmiah dan objektif alias tertolak jika tidak melalui sistematika metode sains modern. (Bersambung)


























